PRIMA Gandeng BCA Perkuat Keamanan Pembayaran Digital

0
98
Reporter: Rommy Yudhistira

PT Rintis Sejahtera selaku pengelola jaringan PRIMA berkomitmen mendukung keamanan transaksi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Untuk memperkuat sistem keamanan dalam ekosistem pembayaran, PRIMA memperkuat kolaborasi dengan para mitra di antaranya PT Bank Central Asia (BCA).

SEVP Information Systems Security Rintis Sejahtera Jeffrey Sukardi mengatakan, pihaknya pun secara aktif memantau, dan mendeteksi anomali transaksi, untuk mencegah terjadinya tindakan kejahatan siber.

“Kami bekerja sama dan mendukung mitra kami untuk memantau serta mendeteksi anomali transaksi pada fraud detection system kami. Upaya ini penting agar mitra kami dapat segera menanggulangi jika terjadi penipuan dan memastikan nasabah tetap aman dalam bertransaksi,” kata Jeffrey dalam acara media gathering di Greyhound Cafe menteng, Jakarta, Rabu (27/8).

Sementara itu, Vice President BCA Sugianto Wono mengatakan, pihaknya menerapkan beberapa aspek seperti peopleprocess, dan technology dalam melindungi data pribadi nasabah BCA.

BCA, kata Sugianto, masih menghadapi tantangan dari aspek people, khususnya yang berkaitan dengan kelalaian individu yang biasanya dimanfaatkan pelaku kejahatan siber. Berdasarkan catatan 2023 Cost of Insider Risk Global Report dari Ponemon Institute dan Forbes 2024, insiden kejahatan siber yang paling sering terjadi yakni penipuan individu melalui social engineering, dan phising, serta ancaman yang berasal dari orang dalam organisasi.

Baca Juga :   Laba Bersih BCA Tumbuh 5,7% pada 9 Bulan Pertama 2025

Selain itu, kata Sugianto, kasus kejahatan siber yang marak terjadi yaitu base transceiver station (BTS) palsu, yang menyamar sebagai menara seluler resmi untuk mengirim SMS palsu seolah-olah berasal dari bank atau operator seluler. Sugianto menambahkan, biasanya BTS palsu bertujuan untuk menipu korban agar mengakses tautan phising, dan menyerahkan informasi pribadi.

Tidak hanya itu, kata Sugianto, pelaku kejahatan siber pun memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat rekaman video, foto, dan audio. Tujuannya untuk menyamar sebagai korban, untuk memperoleh data pribadi, atau mengakses, dan mengaktifkan akun keuangan.

“Di BCA, kami percaya bahwa perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama, antara institusi dan masyarakat,” ujar Sugianto.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem keamanan, kata Sugianto, BCA secara proaktif mendorong pemanfaatan teknologi AI yang sejalan dengan prinsip etika, dan kepatuhan. BCA, kata Sugianto, telah mengembangkan teknologi deteksi dini berbasis AI melalui sistem fraud, detection, dan machine learning untuk mengidentifikasi potensi ancaman siber secara langsung. BCA juga menerapkan prinsip zero trustmulti-layered authentication, serta melakukan audit keamanan secara berkala untuk memastikan sistem dari berbagai bentuk serangan.

Baca Juga :   Aplikasi Serambi Masjid Besutan Bukalapak Mendukung Masjid Go Digital

Meski demikian, kata Sugianto, pihaknya menyadari aspek people merupakan titik rentan yang paling sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber. Karena itu, BCA aktif memberikan edukasi publik melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk kampanye nasional yang bertajuk “Don’t Know? Kasih No!“. Gerakan itu merupakan pembekalan literasi digital yang mengajak masyarakat untuk berpikir kritis, dan tidak asal akses terhadap informasi yang belum jelas sumber atau kredibilitasnya.

“Karena itu, kami terus memperkuat sistem keamanan internal sekaligus mengedukasi nasabah agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital,” kata Sugianto.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics