BCA Pertahankan RBB Meski BI Rate Naik 100 Bps, Target Kredit Tetap 8%-10%
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memastikan tidak merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin. Perseroan tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8%-10% hingga akhir tahun karena realisasi penyaluran kredit masih berada di jalur yang direncanakan.
Penyaluran kredit BCA pada semester I 2026 tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan untuk pertama kalinya menembus angka Rp1.000 triliun, tepatnya mencapai Rp1.036 triliun. Secara year-to-date (YtD), pertumbuhan kredit BCA hingga akhir semester I 2026 mencapai 4,3%, sementara secara kuartalan kredit pada kuartal II tumbuh 4,2%.
“Kita memahami bahwa BI telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin (bps). Untuk BCA, kita mengutamakan mendapatkan pertumbuhan yang lebih bagus di kuartal kedua. Tadi saya katakan, pertumbuhan kredit kita pada kuartal kedua dibandingkan kuartal pertama sebesar 4,2%. Secara keseluruhan, kita masih on target, mempertahankan target untuk sepanjang tahun 2026,” kata Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers paparan kinerja keuangan semester I 2026.
Menurut Vera, kenaikan BI Rate tidak membuat BCA mengubah fokus bisnisnya. Perseroan lebih mengutamakan menjaga momentum pertumbuhan kredit sehingga transmisi kenaikan suku bunga ke bunga kredit dilakukan secara terbatas.
Ia menjelaskan, rata-rata kenaikan bunga kredit BCA hingga semester I relatif kecil. Secara kuartalan, bunga kredit hanya meningkat sekitar 4 basis poin, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan BI Rate yang telah mencapai 100 basis poin.
“Jadi tidak terlalu material dibandingkan dengan kenaikan dari BI yang 100 bps, karena kita utamakan adalah potensi pertumbuhan yang lebih baik,” ujarnya.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menambahkan penyesuaian bunga kredit tidak dilakukan secara otomatis setelah BI menaikkan suku bunga acuan. Menurut dia, perubahan bunga pinjaman bergantung pada siklus jatuh tempo kredit dan dilakukan secara selektif.
“Kita tidak menaikan di semua nasabah. Kita hanya menaikkan kepada nasabah yang kita lihat dari sisi bisnis masih bisa untuk kita naikkan. Untuk nasabah yang tentu rate-nya sudah tinggi, kita tidak naikkan,” kata Hendra.
Sementara itu, Direktur BCA John Kosasih mengatakan prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun masih didukung oleh pipeline pembiayaan di sejumlah sektor, antara lain infrastruktur yang terkait teknologi, transportasi dan logistik, perkebunan, pertanian, serta jasa keuangan.
Ia mengatakan pertumbuhan kredit pada semester I juga didorong oleh meningkatnya penggunaan fasilitas kredit, baik untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi. Menurutnya, permintaan pembiayaan dari sejumlah sektor usaha masih cukup kuat dan diharapkan terus menopang pertumbuhan kredit pada semester II 2026.