Primaya Hospital Kelapa Gading Hadirkan Teknologi Ablasi Jantung tanpa Radiasi
Primaya Hospital Kelapa Gading menghadirkan teknologi ablasi jantung tanpa radiasi. Inovasi penanganan gangguan irama jantung itu menggunakan sistem 3D electro-anatomical mapping, tanpa ketergantungan paparan X-Ray.
Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading Ferry Aryo mengatakan, teknologi itu memungkinkan dokter memetakan anatomi tubuh, dan jalur listrik jantung secara langsung. Tujuannya untuk mempermudah tindakan secara presisi, minimal invasif, dan lebih aman bagi pasien, serta tenaga medis.
“Live case ini bukan hanya menunjukkan teknologi, tetapi juga menjadi bukti bahwa Cardiac and Vascular Center di Primaya Hospital Kelapa Gading telah memiliki layanan jantung modern paripurna seperti angioplasti, PCI, CABG, ablasi,” kata Ferry dalam keterangan resminya pada Senin (11/5).
Melalui penguatan layanan, kata Ferry, Primaya Hospital Group terus memperkuat perannya sebagai pusat pelayanan jantung modern yang menghadirkan teknologi medis terkini, keunggulan klinis, dan mengutamakan kepentingan pasien.
“Ke depan kami ingin terus mengembangkan agar masyarakat mendapatkan akses layanan jantung advanced yang lebih aman, presisi, dan terintegrasi tanpa harus ke luar negeri,” ujar Ferry.
Sementara itu, dr. Agung Fabian Chandranegara dari Primaya Hospital Tangerang menambahkan, perkembangan teknologi penanganan aritmia bergerak sangat cepat. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi antar-dokter, rumah sakit, dan pakar internasional sebagai upaya memperluas pengetahuan, serta meningkatkan kualitas layanan bagi pasien di Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi dan Konsultan Aritmia Yoga Yuniadi menjelaskan, atrial fibrilasi (AF) merupakan salah satu gangguan irama jantung yang kini menjadi masalah kesehatan global.
Data saat ini, kata Yoga, terdapat sekitar 50 juta penderita di kawasan Asia Pasifik, dan 3-5 juta orang di Indonesia. Kondisi itu sering kali tidak terdeteksi karena sekitar 56% pasien AF bersifat asimtomatik. Bahkan, hampir 60% pasien tanpa gejala, atau baru mengetahui kondisinya setelah mengalami stroke.
“Teknologi terbaru seperti non-fluoroscopic ablation dan pulse field ablation memungkinkan tindakan ablasi dilakukan dengan safety profile yang lebih baik sekaligus mengurangi paparan radiasi bagi pasien maupun tenaga medis. Risiko komplikasi berat pada tindakan ablasi juga sangat rendah, yaitu kurang dari 0,2%. Kini, layanan terapi jantung advanced tersebut sudah dapat dilakukan di Primaya Hospital Kelapa Gading,” kata Yoga.