Diguyur Dana SAL Rp55 Triliun dari Pemerintah, Bank Mandiri Tetap Buka Opsi Penerbitan Surat Utang untuk Menambah Likuiditas
Ilustrasi Uang Tunai/Foto: Dok. Bank Mandiri
Meski diguyur dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari pemerintah sebesar Rp55 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tidak menutup kemungkinan untuk tetap menerbitkan obligasi—yang sebelumnya sudah masuk ke dalam rencana bisnis bank—untuk memperkuat likuiditas perusahaan.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini mengatakan selain mengedepankan penguatan fundamental melalui dana pihak ketiga (DPK), penguatan likuiditas juga dilakukan Bank Mandiri melalui penerbitan obligasi serta transaksi bilateral.
Menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers paparan kinerja semester I, Novita menjelaskan dalam rencana bisnis Bank Mandiri yang sudah disampaikan ke regulator, memang terdapat rencana penerbitan obligasi.
“Namun, rencana tersebut saat ini masih berproses dan masih menunggu persetujuan regulator. Tentunya, akan kami sampaikan kepada publik nantinya apabila sudah disetujui oleh regulator dan kami akan menyampaikan ke publik secara transparan sesuai dengan prinsip tata kelola dan juga keterbukaan informasi yang berlaku,” ujarnya, Jumat (19/9).
“Kami juga secara disiplin terus-menerus mengkaji kecukupan likuiditas dan juga kapasitas pendanaan. Ini bertujuan untuk menjaga stabilitas kas dan juga memantau dinamika makroekonomi serta kondisi internal perusahaan,” tambahnya.
Novita menjelaskan saat ini likuiditas Bank Mandiri dalam posisi yang stabil, yang terlihat dari tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada di kisaran 90%.
Selain itu, pada semester I 2025, DPK Bank Mandiri secara bank only tumbuh 11,2%, jauh di atas rata-rata pertumbuhan DPK industri perbankan yang sebesar 6,69% year-on-year.
“Ini menunjukkan bahwa kondisi likuiditas Bank Mandiri berada dalam kondisi yang stabil. Dan ini didukung oleh fundamental pendanaan yang solid, dan juga disiplin dalam mengatur struktur likuiditas,” ujarnya.
Pada semester II 2025, lanjutnya, Bank Mandiri tetap berfokus pada menjaga likuiditas yang sehat. Hal itu dilakukan dengan mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga di atas industri.
“Terutama mengedepankan strategi pertumbuhan dana yang sifatnya transaksional, serta memperluas ekosistem yang saat ini sudah kami miliki baik itu segmen wholesale maupun retail, dan juga bagaimana kami meningkatkan penetrasi layanan digital melalui kanal digital platform kami yaitu Livin’ dan Kopra. Tujuannya agar close loop transaction terjaga sehingga pada ujungnya akan menjaga rasio dana murah kami menjadi lebih kuat dan stabil,” ujarnya.
Terkait dana SAL Rp55 triliun yang ditempatkan pemerintah di Bank Mandiri, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri, M. Rizaldi mengatakan dana tersebut memperkuat likuiditas serta kapasitas pembiayaan Bank Mandiri untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah terutama UMKM dan sektor produktif yang berkontribusi pada peningkatan daya saing ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi kerakyatan.
“Sebagai agen pembangunan, kebijakan ini sejalan dengan komitmen Bank Mandiri untuk mempercepat fungsi intermediasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan,” kata Rizaldi.