Ketidakpastian Ekonomi Global Memburuk; BI Beberkan Tiga Skenario Arah Kebijakan Fed Fund Rate

0
43

Ketidakpastian ekonomi global yang memburuk menjadi salah satu asesmen Bank Indonesia [BI] dalam Rapat Dewan Gubernur [RDG] 23-24 April.

Hal ini dipicu  perubahan arah kebijakan moneter AS dan memburuknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Bank Indonesia menilai “tetap tingginya inflasi dan kuatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) mendorong spekulasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih kecil dan lebih lama dari prakiraan (high for longer)”, sejalan dengan pernyataan para pejabat Federal Reserve System.

Perkembangan ini dan besarnya kebutuhan utang AS mengakibatkan terus meningkatnya yield US Treasury dan penguatan dolar AS semakin tinggi secara global. Semakin kuatnya dolar AS juga didorong oleh melemahnya sejumlah mata uang dunia seperti Yen Jepang dan Yuan China.

Eskalasi konflik geopolitik di  Timur Tengah, menurut Bank Indonesia, mendorong “investor global memindahkan portfolionya ke aset yang lebih aman khususnya mata uang dolar AS dan emas.”

Akibatnya, terjadi pelarian modal keluar [capital outflow] dan pelemahan nilai tukar di negara berkembang semakin besar.

Baca Juga :   Untuk Bayar Utang Luar Negeri dan Stabilisasi Rupiah, Cadangan Devisa Berkurang US$600 Juta

Apakah Fed Fund Rate akan tetap turun?

Dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, Bank Indonesia ragu-ragu FRR akan turun pada semester II tahun ini.

Bila sebelumnya Bank Indonesia percaya diri FRR mulai dipangkas pada semester II 2024 ini, maka tidak demikian saat ini.

Perry mengatakan Bank Indonesia memiliki tiga skenario terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Skenario pertama yang disebut skenario baseline dengan probabilitas di atas 75%, BI memperkirakan FRR akan turun sekali sebesar 25 basis poin di triwulan IV 2024.

“Kemungkinan di Desember 2024,” ujar Perry.

Pada skenario kedua, yang disebut potential risk, dengan probabilitas 50%-75%, Bank Indonesia memperkirakan FRR tidak turun pada 2024, alias tetap seperti yang sekarang, yaitu 5,25%-5,50%.

“Baru turun 50 basis poin kemungkinan pada triwulan I-2025 atau triwulan II-2025,” ujar Perry.

Sementara skenario ketiga yang disebut tail risk, dengan probabilitas di bawah 50%, Bank Indonesia memperkirakan, FRR akan tetap tinggi lebih lama, tetap di 2024 dan baru turun 25 bps di 2025.

Baca Juga :   BI Ajak Sinergi untuk Tumbuhkan Rasa Optimistis demi Pemulihan Ekonomi

Sebelumnya, bankir senior sekaligus Presiden Direktur Bank Central Asia [BCA], Jahja Setiaatmadja memperkirakan bank setral Amerika Serikat, Federal Reserve [Fed] belum akan menurunkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.

Selain inflasi yang masih tinggi, negeri Paman Sam itu juga menghadapi tantangan soal Treasury Bills yang jatuh tempo pada tahun ini.

Karena itu, Jahja memperkirakan Fed bisa saja baru akan menurunkan suku bunganya pada Desember nanti.

“Bahkan bisa lebih ekstrem, tahun depan baru mulai menurunkan suku bunga,” ujar Jahja menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers kinerja BCA, Senin (22/4).

Apa dampak ke Indonesia?

Perry mengatakan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang meningkat ini, secara keseluruhan daya tahan ekonomi Indonesia masih kuat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tinggi bahkan triwulan I dan II akan lebih tinggi dari triwulan IV 2023,” ujarnya.

Inflasi juga tetap terjaga pada level 2,5±1%. Ketahanan eksternal baik berkaitan dengan utang luar negeri, neraca pembayaran maupun kecukupan cadangan devisa, kata Perry juga “tetap kuat.”

Baca Juga :   Bank Indonesia Menaikkan Suku Bunga Acuan Paling Cepat Awal Triwulan III

Meski demikian, sebagai langkah antisipatif, Bank Indonesia tetap menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps pada RDG 23-24 April ini.

“BI Rate naik 25 bps itu adalah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari kemungkinan meningkatnya risiko global ke arah potential risk agar tetap stabil ke depanya dan juga untuk re-emptive untuk memastikan sasaran inflsai 2,5% plus minus 1%,” ujarnya.

Perry mengatakan,  nilai  tukar rupiah terhadap dolar AS akan stabil di sekitar 16.200 pada triwulan II ini. Selanjutnya, secara rata-rata rupiah akan menguat ke arah 16.000 di triwulan III dan  15.800 pada triwulan IV 2024.

Leave a reply

Iconomics