PT Timah Bukukan Pendapatan Rp6,6 Triliun dan Laba Bersih Rp602 Miliar hingga Kuartal III-2025

0
178

PT Timah Tbk (TINS) membukukan pendapatan sebesar Rp6,6 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Laba sebelum bunga, pajak dan depresiasi (Earning before interest, taxes, depreciation and amortization/EBITDA) sebesar Rp1,5 triliun.

Perseroan juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp602 miliar sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Capaian laba tersebut 78% dari target yang sudah ditentukan Perseroan yaitu Rp774 miliar.

Manajemen juga menyampaikan nilai aset Perseroan naik 7% menjadi Rp13,7 triliun dari Rp12,80 triliun pada akhir tahun 2024. Sedangkan posisi liabilitas Perseroan sebesar Rp6,1 triliun, naik 14% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,3 triliun dikarenakan naiknya utang usaha dan pinjaman bank jangka pendek.

Posisi ekuitas sebesar Rp7,61 triliun mengalami kenaikan 2% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp7,45 triliun, dikarenakan laba positif yang dibukukan Perseroan sampai dengan 9M 2025.

Dari sisi struktur modal, Debt to Asset Ratio tercatat sebesar 44,4%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 79,9%, menandakan bahwa tingkat utang masih berada dalam batas yang aman dan terkendali. Secara keseluruhan, angka-angka ini menunjukkan bahwa Perseroan berada dalam posisi keuangan yang cukup stabil untuk mendukung operasional perusahaan ke depan.

Baca Juga :   Gandeng Sekolah Adiwiyata, Pertamina Ajak Generasi Muda Pakai Energi Baru Terbarukan

Seiring dengan peningkatan produksi dari quarter to quarter, momentum tren kenaikan harga logam timah global serta dukungan pemerintah terhadap perbaikan tata kelola pertambangan timah, Perseroan berhasil membukukan laba bersih 9M 2025 sebesar Rp 602 miliar dua kali lipat dari laba bersih semester 1 2025,“ kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah Tbk, Fina Eliani dalam keterangannya.

Dari sisi produksi, Perseroan mencatat produksi bijih timah sebesar 12.197 ton Sn atau turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 15.201 ton Sn. Beberapa faktor penyebab terjadi penurunan produksi bijih timah diantaranya terdampak cuaca angin utara dan angin tenggara, kondisi cadangan tidak menerus (spotted), dan masih terjadinya aktivitas penambangan ilegal. Sedangkan produksi logam timah turun 25% menjadi 10.855 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 14.440 metrik ton.

Adapun sampai dengan September 2025 penjualan logam timah turun 30% menjadi 9.469 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 13.441 metrik ton. Perseroan mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 7% dan ekspor logam timah sebesar 93% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Jepang 19%; Singapura 19%; Korea Selatan 18%; Belanda 9%; Italia 4%; dan Amerika Serikat 4%. Fokus pada pasar ekspor terutama di Asia Pasifik, Eropa dan Amerika, memungkinkan Perseroan memanfaatkan sentimen positif permintaan dari Jepang maupun China, yang dianggap sebagai pendorong utama kenaikan harga timah. Pada sembilan bulan pertama tahun 2025 harga jual rata-rata logam timah Perseroan sebesar US$33.596 per metrik ton, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$31.183 per metrik ton.

Leave a reply

Iconomics