Resmi Melantai di Bursa Efek Indonesia, Siapa Pemilik Dunia Virtual Online Tbk (AREA)?

0
67

PT Dunia Virtual Online Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 1 April 2024, dengan kode saham AREA.

Melepas 510 juta lembar saham kepada investor publik pada harga perdana Rp131 per saham, Perseroan meraup dana Rp66,81 miliar dari Initial Public Offering (IPO) ini.

“Tujuan utama PT Dunia Virtual Online Tbk masuk ke Bursa adalah untuk mencapai transparansi, efisiensi, serta akuntabilitas dalam setiap kegiatan operasionalnya yang dapat dilihat jelas oleh publik,” ujar Direktur Utama PT Dunia Virtual Online Tbk, Michael Kurnia Wirawan Alifen di Main Hall BEI, saat seremoni pencatatan perdana saham, Senin, 1 April.

Dengan IPO ini, tambah Michael, Perseroan juga berharap mendapatkan fleksibilitas untuk mengembangkan usaha lebih pesat lagi, terutama untuk mewujudkan visinya menjadi pemimpin di industri data center.

Pada hari pertama debutnya di lantai Bursa, harga saham PT Dunia Virtual Online Tbk dibuka dilevel Rp152 per saham, naik sekitar 16% dari harga perdana.

Siapa  pemilik Dunia Virtual Online Tbk?

Mengutip situs perusahaan, PT Dunia Virtual Online Tbk yang berdiri tahun 2010 merupakan perusahaan yang bergerak dalam layanan colocation atau data center yang berlokasi di Cimanggis, Depok Jawa Barat (AREA31).

Baca Juga :   Bakal Melantai Besok di BEI, Dirut AMMN Berharap Dukungan Pelaku Pasar Tetap Positif

Baik sebelum maupun setelah IPO, pemilik saham mayoritas PT Dunia Virtual Online Tbk adalah PT Dwi Tunggal Putra. Perusahaan yang sudah eksis sejak 1974 ini memiliki 38,06% saham PT Dunia Virtual Online Tbk setelah IPO.

Pemilik saham terbesar kedua setelah IPO adalah Sugeng Alifen yaitu sebesar 30,74%. Sugeng menjabat sebagai Komisarsi Utama PT Dunia Virtual Online Tbk.

Sugeng juga merupakan Presiden Direktur & Pendiri PT Dwi Tunggal Putra. Ia merupakan sarjana Teknik Elektro Arus Lemah dengan spesialisasi di jurusan Telekomunikasi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

Penggunaan dana hasil IPO

Mengutip prosoektus, setelah dikurangi biaya emisi, sekitar 64,17% dana hasil IPO digunakan untuk pengembangan usaha dalam bentuk belanja modal. Belanja modal tersebut antara lain fitting out Data Hall 2 dan Data Hall 3 di AREA31 Cimanggis.

Fitting out adalah instalasi infrastruktur penunjang baik peralatan maupun perangakat di Data Hall 2 dan Data Hall 3 yang masih kosong agar dapat beroperasi dan melayani jasa colocation.

Selain fitting out, belanja modal juga berupa penambahan kapasitas kelistrikan  dan  kapasitas pendinginan di Data Hall 2 dan Data Hall 3, AREA31 Cimanggis.

Leave a reply

Iconomics