Tak Bagi Dividen karena Masih Defisit Laba Ditahan, Presdir BUMI: Mudah-mudahan Segera Netral

1
1013

Pada kesemapatan yang sama R.A. Sri Dharmayanti, Direktur BUMI mengatakan selain karena saldo laba yang masih defisit, Perseroan juga tidak membagikan dividen karena saat ini masih fokus pada pembayaran utang dan memerlukan modal kerja untuk menjalankan kegiatan bisnis Perseroan.

Seperti diketahui, harga batubara dunia meroket dengan tingkat kenaikan sebesar 85,6% sepanjang tahun 2021 dan ditutup pada harga US$151,8 per ton, bahkan harga tertinggi sepanjang sejarah berhasil menyentuh US$400 per dolar pada Mei 2022 ini.

Kenaikan harga batubara terutama disebabkan oleh kelangkaan pasokan disertai dengan peningkatan permintaan secara global. Selain itu, sejumlah faktor lain juga memberikan pengaruh yang signifikan diantaranya musim dingin yang ekstrim, efek perubahan iklim, masalah geopolitik global termasuk perang Ukraina, harga gas alam yang meroket, serta kendala infrastruktur di beberapa negara penghasil batubara.

Sri Dharmayanti mengatakan seiring dengan naiknya harga batubara dunia, harga jual batubara Perseroan juga turut mengalami kenaikan dari US$44,2 per ton pada tahun 2020 menjadi US$67,4 per ton pada 2021.

Baca Juga :   Bumi Resources Bayar Utang US$31,8 Juta

Momentum kenaikan harga ini dimanfaatkan Perseroan untuk meningkatkan pendapatan dan menaikkan stripping ratio. Namun, Perseroan juga menemui beberapa rintangan seperti adanya curah hujan yang tinggi akibat efek La Nina. Curah hujan yang tinggi menyebabkan jumlah produksi batubara Perseroan sedikit menurun yaitu dari 81,1 juta ton pada tahun 2020 menjadi 78,8 juta ton pada tahun 2021. Namun demikian capaian ini secara umum telah mendekati target yang telah ditetapkan Perseroan di awal tahun yaitu 80 juta ton.

Seiring dengan kenaikan harga batubara ini, Pendapatan usaha Perseroan meningkat dari US$790,4 juta menjadi US$1.008,2 juta pada tahun 2021. Perseroan juga berhasil mencatatkan laba bersih komprehensif tahun berjalan sebesar US$223,4 juta setelah sebelumnya di tahun 2020 Perseroan membukukan rugi bersih komprehensif tahun berjalan sejumlah US$337,4 juta.

Kinerja keuangan yang baik ini memungkinkan BUMI untuk terus melunasi kewajibanya. Pada tahun 2021, BUMI telah melunasi utang dan kupon Trance A sebesar US$443,8 juta pada tahun 2021.

“Kami memperkirakan bahwa harga jual rata-rata batubara Perseroan akan terus mengalami kenaikan secara bertahap di tahun 2022. Capaian ini terutama dipengaruhi oleh hubungan Rusia dan Ukraina yang belum mencapai kesepakatan damai. Perang antara Rusia dan Ukraina membuat supply batubara dari Rusia ke sejumlah negara ekspor tersendat termasuk diantaranya ke negara-negara Eropa dan China. Kejadian ini memungkinkan batubara Indonesia untuk menjadi subtitusi impor dari sejumlah negara tersebut,” beber Sri Dharmayanti.

Baca Juga :   KPC Lanjutkan Pemanfaatan FABA

Pada tahun 2022 ini pemerintah Indonesia menargetkan produksi batubara sebesar 663 juta ton meningkat 8% dari realisasi produksi pada tahun 2021 yaitu 614 juta ton. Selaras dengan hal ini, BUMI menargetkan produksi batubaranya meningkat 10% yaitu sebesar 83 juta ton sampai 89 jua ton.

“Dari segi tujuan negara ekspor, Perseroan tetap memprioritaskan ekspor batubara ke negara-negara tradisional tujuan ekspor seperti China, Jepang, Korea dan Taiwan,” ujar Sri Dharmayanti.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Halaman Berikutnya
1 2

1 comment

Leave a reply

Iconomics