Gita Wirjawan Soroti Posisi Asia Tenggara Dalam Membangun Narasi Global

0
53

Pendidikan menjadi kunci. Tanpa pendidikan yang mumpuni, rasanya daya saing sebuah negara akan berat. Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II, Gita Wirjawan menyoroti tantangan Asia Tenggara dalam membangun narasi global.

Dari 140 juta buku yang terbit di seluruh dunia, hanya 0,26% yang mengulas Asia Tenggara, meski kawasan ini dihuni lebih dari 700 juta penduduk. “Ini menunjukkan masih lemahnya kemampuan masyarakat Asia Tenggara dalam bercerita, menguasai literasi, dan numerasi,” kata Gita dalam Meet The Leaders ke-6 yang digelar Universitas Paramadina.

Gita juga menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi perubahan. Saat ini, 88% kepala keluarga dan 93% pemilih di Indonesia belum berpendidikan S1, sehingga investasi besar dalam pendidikan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dan politik.

“Guru memiliki peran sentral dalam menyuntikkan imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang lahir dari kerja keras. Inilah modal utama generasi muda untuk melangkah maju,” kata Gita.

Gita membahas tantangan kesenjangan sosial-ekonomi yang termanifestasi dalam empat bentuk, yakni kekayaan, pendapatan, peluang, serta pertumbuhan ekonomi yang timpang antara kota besar dan daerah kecil.

Baca Juga :   Resmi Dilantik, Pengurus Aptisi Perkuat Posisinya sebagai Mitra Pemerintah di Bidang Pendidikan

Ia juga menekankan pentingnya akselerasi pembangunan infrastruktur, khususnya dalam sektor energi. Indonesia, misalnya, membutuhkan pembangunan 400 ribu megawatt listrik untuk menopang moderenisasi, namun saat ini hanya mampu membangun 3.000–5.000 megawatt per tahun.

Dalam konteks global, Gita membandingkan capaian Tiongkok dengan Asia Tenggara. Selama 30 tahun terakhir, GDP per kapita Tiongkok tumbuh 30 kali lipat, sementara Asia Tenggara hanya 2,7 kali lipat. Hal ini terjadi karena Tiongkok berhasil menginvestasikan sumber daya pada pendidikan, infrastruktur, tata kelola (governance), daya saing, serta model politik-ekonomi yang memungkinkan independensi kota dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Menurut Gita, nasionalisme sejati tidak berhenti pada identitas, tetapi pada siapa yang mampu menikmati manfaat pembangunan.

Ia mengatakan keterbukaan terhadap talenta, imajinasi, ambisi, serta keberuntungan yang dibentuk oleh kerja keras harus menjadi nilai utama generasi muda Indonesia.

Leave a reply

Iconomics