Lebarkan Sayap Bisnis Grup Djarum, Bos Djarum Incar Bisnis Susu
PT Djarum berencana melebarkan sayap bisnis dalam industri susu segar. Adanya bonus demografi yang dimiliki Indonesia, menjadi salah satu pertimbangan bagi Djarum Grup untuk melakukan ekspansi bisnis.
Direktur Utama Djarum, Victor Rachmat Hartono mengatakan untuk menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan gizi yang cukup bagi anak-anak Indonesia. Karena itu, Djarum melihat adanya potensi bisnis yang bisa dimaksimalkan oleh perusahaan keluarga tersebut.
“Jadi contohnya, sekarang ini saat yang tepat orang Indonesia banyak minum susu. Minum susu yang fresh lagi. Jadi kita masuk ke milk time. Karena ini saatnya akan anaknya (masyarakat) banyak. Lumayan banyak, tapi sudah mulai punya duit untuk susu. Jadi ini saat yang tepat untuk relevan bisnis ini,” kata Victor saat menjadi pembicara di acara Meet The Leaders, di kampus Paramadina, Jakarta, Sabtu (26/7).
Dari sisi investasi, Victor mengatakan Djarum optimistis bahwa Indonesia akan menjadi negara yang maju. Victor memprediksi pendapatan per kapita Indonesia bisa menembus angka sekitar US$10.000-US$15.000 di masa mendatang. Dengan peluang itu, Victor menambahkan, Djarum memutuskan untuk fokus menanamkan modal di Tanah Air.
“Artinya bisnis size-nya akan double atau triple. Meaning yang kerja di Djarum, dan yang punya Djarum akan double and triple bisnisnya. So, kita optimistis sama negara ini,” tambahnya.
Kendati demikian, berbekal pengalaman yang pernah terjadi di Djarum Grup, Victor menuturkan, pihaknya meyakini bahwa tidak ada yang bisa memastikan suatu bisnis bisa berjalan dengan baik. Sebagaimana yang pernah terjadi di Djarum, kata Victor, dahulu Djarum pernah menjalankan bisnis minyak kacang tanah, mercon, hingga konstruksi. Akan tetapi, lanjut Victor, seluruh bisnis yang dijalankan oleh para pendiri Djarum Grup itu tidak berjalan dengan mulus. Ada beberapa faktor yang membuat bisnis tersebut harus tutup.
Dari pengalaman itu, Victor pun memahami suatu hari nanti bisnis susu akan berada di titik terendah. Hal itu, kata Victor, sudah terjadi di negara-negara maju seperti Korea Selatan, dan Jepang. Berdasarkan data yang dimiliki, Victor mengatakan tingkat kelahiran anak di negara tersebut hanya mencapai 0,6% anak per keluarga.
“Jadi yang berasa industri saya akan bagus-bagus terus, tolong lihat seluruh dunia. Contohnya susu, ini buat kita masih bagus, tapi masa depan belum tentu. Begitu cewek-cewek Indonesia pendidikannya tinggi, dan mau kerja, kemungkinan besar anaknya akan sedikit. Pada saat anaknya sedikit, bye-bye industri susu,” ujar Victor.
Kendati demikian, Victor menilai sebagai negara berkembang Indonesia masih memiliki jalan yang panjang untuk menuju ke arah tersebut. Oleh sebab itu, bisnis susu masih membuka potensi yang baik, dengan pasar yang luas di Indonesia.
“Saya tahu statistiknya (Indonesia) 2,4% anak per keluarga, dan saya bisa lihat anaknya Martin (adik Victor) tiga, saya (anak) dua. Memang kenyataannya begitu. Kita masih banyak anaknya. Sudah anaknya banyak, tapi terkonsentrasi dananya. Jadi bisa beli susu,” katanya.