Kinerja Pembiayaan BCA Syariah Tumbuh 23,1% YoY, dan Cetak Laba Bersih Rp 212 M di 2025
PT Bank BCA Syariah mencatat laba bersih sebesar Rp 212 miliar, dan sektor pembiayaan tumbuh menjadi Rp 13,2 triliun pada 2025. Tiap-tiap dari angka tersebut meningkat 15,4%, dan 23,1% secara tahunan (yoy).
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan, peningkatan pembiayaan karena dorongan pembiayaan komersial dan pembiayaan konsumer seperti KPR dan emas. Dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjaga kualitas aset, rasio non performing financing (NPF) gross pun berada di level 1,57%.
Dari sisi pendanaan, kata Yuli, DPK BCA Syariah tumbuh 17,1% yoy menjadi Rp 15,4 triliun. Ini terjadi karena peningkatan dana murah (CASA) tumbuh 25,7% yoy, dan mencapai Rp 6,3 triliun.
“Alhamdulillah, BCA Syariah pada tahun ini tumbuh solid dan berkelanjutan yang tercermin, antara lain dari peningkatan total aset. Pertumbuhan didukung dari pertumbuhan DPK dan penyalurannya dalam bentuk pembiayaan yang berkualitas. Ini mencerminkan semakin kuatnya minat dan kepercayaan masyarakat,” kata Yuli di kantor pusat BCA Syariah, Jakarta, Selasa (10/2).
Seiring dengan tingginya minat masyarakat terhadap layanan digital, ujar Yuli, BCA Syariah terus memperkuat saluran layanan elektronik yang menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Sepanjang 2025, kata Yuli, BCA Syariah fokus untuk memperkaya fitur pada mobile banking BSya. Beberapa di antaranya penambahan fitur pembiayaan emas, e-deposito, QRIS dengan metode customer presented mode, setor tunai tanpa kartu, qurban, zakat fitrah, pembayaran internet dan TV, serta digital membership.
Selain itu, kata Yuli, perusahaan juga mengembangkan internet banking BIQ untuk dunia usaha dengan fitur berupa dashboard keuangan, integrasi KSEI/RDN, BI Fast, dan transfer batch.
Untuk selanjutnya, kata Yuli, BCA Syariah akan terus memperkuat struktur pendanaan, meningkatkan kualitas pembiayaan, serta mengembangkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah. BCA Syariah juga berkomitmen untuk mendukung penguatan literasi, dan inklusi keuangan syariah di Indonesia.
“Kami memanfaatkan digitalisasi untuk menjadi semakin dekat dengan nasabah, serta mengembangkan fitur-fitur yang meningkatkan kenyamanan dan kemudahan akses layanan perbankan syariah, termasuk menjaga kinerja dan kemampuan sistem IT, tanpa mengesampingkan aspek keamanan dan kepatuhan terhadap prinsip syariah,” ujar Yuli.