Rupiah Melemah ke Rp17.528 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Global dan Ketidakpastian Kebijakan Domestik 

Pasar antara lain mengkhawatirkan ketidakpastian arah kebijakan pemerintah terkait pengenaan royalti hasil tambang serta belum jelasnya strategi penambahan pendapatan negara di tengah besarnya kebutuhan belanja pemerintah.
0
33

Nilai tukar rupiah terus tertekan di tengah penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi geopolitik global maupun ekonomi domestik.

Pada perdagangan Selasa (12/5), rupiah ditutup melemah 114 point ke level Rp17.528 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang  Rp17.520- Rp17.580,” kata  Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi kepada wartawan, Selasa petang.

Ia mengatakan penguatan dolar AS dipicu memanasnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

“Negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran tampak rapuh, dengan respons Teheran terhadap proposal AS menyoroti perbedaan mencolok yang membuat ketegangan kembali meningkat,” ujar Ibrahim.

Kondisi tersebut, jelasnya, terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berada dalam “kondisi kritis”. Ketidaksepakatan disebut mencakup penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, hingga kompensasi atas kerusakan perang.

Baca Juga :   ASDP Dirangkul Bank Indonesia untuk Distribusikan Rupiah

Selain itu, Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global.

Di saat yang sama, pemerintahan Trump mengumumkan rencana meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) untuk meredam pasar minyak. Washington juga menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan yang dituding memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok.

Ibrahim menambahkan, pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

“Pasar kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Fed,” kata Ibrahim.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen ekonomi domestik. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, Ibrahim menilai angka tersebut perlu dicermati lebih dalam karena dipengaruhi efek basis rendah atau base effect.

“Angka 5,61% terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi,” ujarnya.

Baca Juga :   Standard Chartered Beberkan Proyeksi Ekonomi Indonesia di 2024, Berapa Perkiraan Nilai Tukar Rupiah?

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 juga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang sehat karena masih banyak variabel yang perlu diwaspadai.

Sentimen pasar juga terbebani oleh pelemahan sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 yang menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir akibat melemahnya permintaan pasca-liburan serta meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan.

Selain itu, pasar masih mengkhawatirkan ketidakpastian arah kebijakan pemerintah terkait pengenaan royalti hasil tambang serta belum jelasnya strategi penambahan pendapatan negara di tengah besarnya kebutuhan belanja pemerintah.

Di sisi lain, investor juga mencermati pengumuman MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global mereka.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics