Jalan Pengabdian Ahmad Rizal Ramdhani: Dari Prajurit TNI Menjadi “Panglima” Bulog

0
106

Perjalanan Ahmad Rizal Ramdhani sebagai prajurit menjadi bekal yang sinkron dengan amanat yang diembannya saat ini sebagai Direktur Utama Perum Bulog.

Bulog memikul mandat besar negara: mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Swasembada pangan, dalam konteks Indonesia moderen, bukan sekadar urusan ekonomi. Pangan urusannya dengan kedaulatan.

Egy Massadiah, penulis dan juga mantan Staf Khusus Ketua BNPB Doni Monardo, menyebut Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani ditempa dengan berbagai penugasan dan tantangan di korps zeni. Ia tetap bersahaja.

Dalam tradisi lama dunia militer, korps zeni sering disebut sebagai “penakluk sunyi.” Mereka bukan pasukan yang pertama kali disebut dalam kisah-kisah heroik peperangan. Tetapi tanpa mereka jembatan tidak akan tersambung, jalan tidak akan terbuka, dan pasukan tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Mereka bekerja seperti akar pohon: tersembunyi di bawah tanah, namun menopang seluruh kehidupan di atasnya.

Dirut Bulog kelahiran yang lahir 9 November 1970 ini dibentuk di kawah Candradimuka taruna Akademi Militer 1993 sebagai Penatarama Genderang Suling Canka Lokananta. Ia tumbuh dan berkembang dalam dunia keprajuritan yang keras, leadership yang prima dan taat beribadah.

Korps Zeni Angkatan Darat—matra yang mengajarkan bahwa kekuatan bukan hanya tentang menghancurkan (destruksi), tetapi juga membangun (konstruksi), penyamaran (kamuflase), Nubika & Jihandak yg bermanfaat di masa perang maupun damai. Di situlah Rizal digodog dan dibentuk menjadi Perwira Pertama. Dan dalam  perjalanannya,  ia juga memiliki kemampuan intelijen serta teritorial.

Mungkin karena itulah perjalanan karier Ahmad Rizal Ramdhani tampak seperti aliran sungai yang panjang: tenang di permukaan, tetapi memiliki arus yang kuat di kedalamannya. Demikian cerita yang disampaikan Egy mengenai sosok prajurit yang menjadi bos Bulog ini.

Egy menyampaikan Ahmad Rizal memulai pengabdian dari jabatan-jabatan paling dasar: Danton, Danki, hingga Pasi di Yonzipur 1/Dhira Dharma. Di sanalah seorang perwira muda belajar bahwa kepemimpinan bukanlah soal suara paling keras, melainkan kemampuan menjadi contoh pertama ketika pekerjaan berat dimulai.

Baca Juga :   Bulog Sebut Serapan Gabah Capai Sekitar 4,5 Juta Ton di 2025, Klaim Tertinggi Dalam Sejarah

Rizal pun menempa berbagai pendidikan intelijen baik dalam dan luar Negri serta melanjutken penugasan di STI Bais TNI, Wadan Denintel Kodam V/Brawijaya serta pernah juga bertugas di Paspampres sebagai Pabandya Pam.

Berbekal dengan pengalaman tugas dan pendidikan yang beraneka ragam serta tingkat tanggung jawab yang tinggi membentuk karakter Rizal lebih matang hadapi berbagai tantangan penugasan yang multidimensi dan komplek namun tetap  bersahaja. Dapat diibaratkan, bila infanteri adalah ujung tombak, maka zeni adalah tangan yang membuka jalan. Mereka membentang jembatan ketika sungai menghalangi. Mereka mengais reruntuhan ketika bencana datang. Mereka menata kembali kehidupan setelah luluhlantak.

Karena itu, perjalanan Rizal tidak pernah jauh dari pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan fisik yang prima, kesabaran dan ketahanan mental.

Ketika bertugas sebagai Pasi Intel Kodim 0201/BS Medan hingga kemudian dipercaya menjadi Dandeninteldam I/Bukit Barisan, ia belajar Intelijen Teritorial bagaimana membaca manusia dan wilayah dalam menyikapi dinamika di lapangan. Dalam dunia intelijen, ancaman tidak selalu tampak di permukaan. Ia seperti api kecil di bawah sekam: diam, tetapi dapat membesar sewaktu-waktu.

Namun watak zeni tetap melekat dalam dirinya. Egy bercerita bahwa Rizal dikenal sebagai sosok yang lebih suka membangun dibanding memperuncing konflik. Bahkan ketika menjabat Dandim Batam, pendekatan teritorial yang digunakannya sering digambarkan lebih mengedepankan kolaborasi sosial dibanding sekadar pendekatan formal kekuasaan.

Jejak pengabdiannya semakin menonjol ketika menjadi Danrem 162/Wira Bhakti di Lombok. Tak lama setelah ia menjabat, gempa besar tahun 2018 mengguncang 8 kabupaten/kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lombok berubah menjadi lanskap luka: rumah runtuh, masjid retak, anak-anak kehilangan tempat tidur, dan ribuan keluarga hidup di tenda-tenda pengungsian.

Di tengah kekacauan itu, Rizal yang bertubuh tinggi tegap hadir bukan hanya sebagai komandan militer. Tetapi sebagai pemimpin kemanusiaan. Egy menceritakan Rizal bahu-membahu bersama Kepala BNPB saat itu, Letjen TNI Doni Monardo—seniornya dari Akademi Militer 1985—membangun kembali harapan masyarakat Lombok.

Baca Juga :   Bulog Kirimkan 2.280 Ton Beras Premium untuk Penuhi Kebutuhan Jemaah Haji 2026

Doni Monardo (Alm) sendiri dikenal luas sebagai figur militer yang memiliki filosofi “menanam pohon sama dengan menanam harapan.” Dan semangat itu menemukan resonansinya pada diri Ahmad Rizal Ramdhani.

Di Lombok, tugas teritorial berubah menjadi kerja kemanusiaan. Prajurit tidak lagi sekadar menjaga keamanan, tetapi mengangkat puing-puing rumah warga, membangun hunian sementara, mendistribusikan logistik, hingga menenangkan anak-anak yang trauma.

Dalam banyak kesempatan, Rizal dikenal sebagai sosok yang mencintai alam dan lingkungan. Hampir di setiap tempat tugasnya, ia juga meninggalkan jejak penghijauan: menanam pohon, menghidupkan ruang hijau, dan mengajak prajurit memahami bahwa menjaga bumi adalah bagian dari menjaga bangsa.

Karier Rizal terus bergerak menuju ruang-ruang strategis: Kaskogabwilhan II, Staf Khusus Kasad dalam penugasan Kementerian Pertanian sebagai Komandan Satgas BKO Ketahanan Pangan yang merintis Pembangunan 1 juta hektar lahan persawahan beserta infrastrukturnya di Wanam Merauke, Rizal terjun langsung bersama prajurit & para petani bahu membahu membangun Merauke menjadi Lumbung Pangan Nasional kedepannya, hingga akhirnya dipercaya menjadi Direktur Utama Perum Bulog.

Di titik inilah perjalanan militernya menemukan bentuk baru. Dahulu ia membangun jembatan untuk pasukan. Kini ia membangun jembatan distribusi pangan bagi rakyat Indonesia.

Menurut Egy, dunia zeni memiliki hubungan yang sangat dekat dengan dunia pangan. Keduanya sama-sama berbicara tentang logistik, konektivitas, dan ketahanan. Jalan rusak dapat menghambat distribusi beras. Rizal menyandingkan ilmu intelejen dan teritorial di sektor pangan.

Jembatan yang runtuh dapat memutus rantai pangan. Gudang yang tidak tertata dapat menciptakan krisis. Karena itu, pengalaman Rizal di korps zeni dan teritorial menjadi modal yang unik dalam memimpin Bulog.

Dalam pandangan Egy, di bawah kepemimpinan Rizal, Bulog tidak hanya memanggul tugas administratif. Bulog memikul mandat besar negara: mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Dan swasembada pangan, dalam konteks Indonesia modern, bukan sekadar urusan ekonomi. Tapi urusan kedaulatan.

Baca Juga :   Dirut Bulog: Jumlah Stok Beras Sangat Kuat untuk Program Stabilitas Harga 2024

Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menegaskan bahwa bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan mudah terguncang oleh tekanan global. Menurut Egy, dalam kerangka besar itulah figur seperti Ahmad Rizal Ramdhani menjadi relevan, yakni seorang perwira yang memahami disiplin logistik militer, tetapi juga mengerti denyut kebutuhan rakyat kecil.

Hubungannya dengan Presiden Prabowo dapat dibaca dalam konteks visi strategis tersebut. Dukungan all out dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga merupakan berkah bagi Rizal.

Indonesia menempatkan isu pangan sebagai bagian dari pertahanan nasional. Pasalnya, perang moderen tidak selalu datang dalam bentuk invasi. Kelangkaan pangan, krisis iklim, dan rusaknya ekosistem dapat menjadi ancaman yang jauh lebih sunyi tetapi mematikan.

Kisah hidup Ahmad Rizal Ramdhani saat bahu membahu menangani bencana gempa Lombok pernah diabadikan dalam buku “Mempolong Merenten”, sebuah frasa yang menggambarkan semangat persaudaraan, pengabdian, dan kerja bersama dalam menghadapi kehidupan.

Buku itu seperti ingin menegaskan bahwa perjalanan seorang prajurit sejati tidak diukur hanya dari pangkat dan jabatan, tetapi dari manfaat yang ditinggalkannya bagi manusia lain.

Dan mungkin itulah inti perjalanan Ahmad Rizal Ramdhani. Ia memahami bahwa membangun jauh lebih sulit daripada menghancurkan. Ia adalah prajurit yang mengerti bahwa ketahanan bangsa bukan hanya berdiri di atas tank dan senapan, tetapi juga di atas padi yang tumbuh subur, pohon yang tetap hijau, dan rakyat yang tidak pernah kehilangan harapan.

Menurut Egy, ditangannya, Bulog bukan sekadar institusi logistik pangan namun sesuai visinya Bulog harus menjadi orkestrator pangan nasional, dan bahkan internasional ke depannya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics