Sufmi Dasco Ahmad dan Petinggi Danantara Sambangi BEI, IHSG Terus Longsor
Politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sekaligus Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (19/5). Ia didampingi CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara saat ini adalah Rosan Roeslani dan Chief Operating Officer (COO), Dony Oskaria. Mereka diterima langsung Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini adalah Friderica Widyasari Dewi dan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna.
Di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari ini, Politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sekaligus Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad mendatangi Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5).
Ia didampingi dua petinggi Danantara, yaitu Rosan Roeslani (CEO) dan Dony Oskaria (COO).
Mereka diterima langsung oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi dan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna.
Ketua OJK mengatakan kedatangan para tamu tersebut untuk “mengikuti perkembangan terkini” pasar modal Indonesia.
“Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Prof. Dasco, beserta Pak Rosan dan juga jajaran Danantara semua,” kata Kiki, sapaan Friderica Widyasari Dewi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Pada akhir April lalu, IHSG masih berada di level 6.956,80.
Namun, pada penutupan perdagangan Selasa (19/5), IHSG berada di level 6.370,68, melemah 3,46 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Sejak awal tahun, indeks juga terus mengalami pelemahan. Sepanjang tahun ini, IHSG tercatat sudah terkoreksi 26,32 persen.
Dalam konferensi pers, Dasco menyampaikan apresiasi kepada direksi BEI dan pimpinan OJK.
“Terima kasih atas kerja keras dari Direksi Bursa maupun OJK, yang beberapa hari ini telah berupaya menghadapi situasi yang disebabkan oleh pasar global maupun dinamika di dalam negeri,” ujarnya.
Dasco mengatakan dalam pertemuan tersebut dirinya mendengarkan laporan dari direksi bursa terkait berbagai upaya penyempurnaan regulasi guna meningkatkan kepercayaan pasar. Langkah itu diharapkan dapat memberikan rasa nyaman bagi investor domestik, khususnya investor ritel.
Menurut dia, pertumbuhan jumlah investor lokal yang terus meningkat menjadi sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. Dengan dukungan regulasi yang semakin baik dan meningkatnya partisipasi investor domestik, ia optimistis kinerja bursa ke depan akan semakin kuat.
“Mudah-mudahan kita akan melihat hasilnya setelah tanggal 29 ini. Semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan membuahkan hasil,” ujarnya.
Sementara itu, Rosan mengatakan bagi Danantara, investasi di bursa dipandang sebagai investasi jangka panjang. Menurut dia, emiten BUMN yang tercatat di bursa, seperti sektor perbankan dan mineral, masih menawarkan imbal hasil (yield) yang sangat baik, di kisaran 10–11 persen.
“Saya mesti kasih apresiasi ke OJK dan juga ke bursa dengan beberapa affirmative action-nya, dalam rangka terus menyempurnakan bursa kita menjadi lebih baik, lebih transparan, lebih governance, to deepen also our capital market,” ujarnya.
Menurut Rosan, seluruh upaya tersebut merupakan proses yang diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik. Ia menilai arah pengembangan pasar saat ini sudah berada di jalur yang tepat, tinggal bagaimana mempercepat berbagai perbaikan dan penyempurnaan regulasi yang telah dilakukan.
Karena itu, Rosan meminta pelaku pasar tidak melihat pergerakan bursa dalam perspektif harian atau bulanan semata. Menurutnya, pendekatan investasi harus dilakukan dalam jangka panjang.
“Saya sangat meyakini bahwa ke depannya dalam jangka panjangnya, bahwa bursa kita ini akan terus bertumbuh, baik dari segi market kapitalisasinya, baik dari segi eminentnya, dan juga baik dari investornya,” kata Rosan.
Berdasarkan pembicaraan dalam pertemuan tersebut, Rosan menyampaikan jumlah investor ritel di pasar modal saat ini telah mencapai sekitar 26 juta hingga 27 juta investor, meningkat sekitar 6 juta dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 juta investor.
Peningkatan jumlah investor tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya terhadap prospek pasar modal Indonesia ke depan. Sebab, apabila pasar tidak prospektif, jumlah investor seharusnya justru mengalami penurunan.
Selain itu, ia menilai edukasi kepada investor domestik, khususnya generasi muda, perlu terus diperkuat. Menurutnya, investasi di pasar modal merupakan instrumen investasi jangka menengah dan panjang yang mampu memberikan return yang baik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ia menegaskan fluktuasi di pasar saham merupakan hal yang wajar. Meski demikian, ia optimistis prospek pasar modal Indonesia masih sangat positif karena ditopang fundamental perusahaan yang dinilai kuat.
Menurut dia, banyak emiten di bursa masih menawarkan yield yang tinggi dengan valuasi yang menarik. Kondisi tersebut, katanya, terlihat jelas pada saham-saham sektor perbankan yang saat ini diperdagangkan pada level price to book value (PBV) mendekati bahkan di bawah satu kali.
Padahal, dalam kondisi normal, valuasi saham perbankan umumnya berada di atas dua kali PBV. Karena itu, ia menilai kondisi pasar saat ini justru membuka peluang kenaikan (potential upside) yang cukup besar bagi investor jangka menengah dan panjang.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan fundamental perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia masih menunjukkan kinerja yang positif.
Menurut dia, dari total 957 perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia, sekitar 85 persen telah menyampaikan laporan keuangan. Berdasarkan laporan tersebut, kinerja fundamental emiten dinilai masih cukup kuat.
“Secara fundamental net income dan kemudian dari sisi net profit itu meningkat 21,5%,” ujarnya.
Selain itu, dari sisi demand, minat investor juga terus meningkat. Saat ini, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai sekitar 27 juta investor.
Nyoman menambahkan, dari sisi supply, pipeline perusahaan yang akan melantai di bursa juga masih terjaga dengan baik. Saat ini terdapat sekitar 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham dan sebagian besar merupakan perusahaan berukuran besar.
Lantas, Mengapa IHSG Turun Terus?
Friderica Widyasari Dewi mengatakan penurunan IHSG dalam beberapa hari terakhir masih sejalan dengan tren pelemahan bursa saham di kawasan regional.
Menurut dia, sejumlah bursa di negara lain bahkan mengalami penurunan yang lebih dalam. Kalaupun ada yang naik, kata dia, kenaikannya hanya tipis.
“Ini seiring dengan dinamika geopolitik yang terjadi saat ini, tensi geopolitik dengan adanya perang di Timur Tengah dan juga ekspektasi kebijakan moneter secara global, yang kita prediksi masih akan terus hawkish,” ujarnya.
Selain itu, pergerakan IHSG juga masih dipengaruhi sentimen negatif kebijakan rebalancing MSCI yang diumumkan pada 12 Mei lalu.
“Namun kalau kita lihat, bahwa pelemahannya itu masih moderat, yaitu di 1,98% pada hari pertama pengumuman MSCI, dan juga kemarin di 1,85% di 18 Mei setelah libur panjang,” kata Kiki, sapaannya.
Kiki menilai dinamika pergerakan pasar saham saat ini menunjukkan proses penyesuaian yang semakin berbasis fundamental.
“Kami menyampaikan bahwa ini adalah konsekuensi logis dari berbagai transformasi di pasar modal yang kita lakukan. Kita melihat pergerakan indeks kita sudah lebih secara fundamental, dan juga sekarang IHSG pergerakannya juga relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI, maupun subindeks utama seperti LQ45 dan juga IDX30, dan juga IDX80,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata dia, mencerminkan proses price discovery yang semakin sehat karena pergerakan harga saham lebih ditopang faktor fundamental perusahaan dibandingkan sekadar sentimen pasar.
Karena itu, ia menilai berbagai pembenahan dan reformasi yang dilakukan regulator memberikan dampak positif terhadap kualitas pasar modal domestik.
Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics
POJK Baru untuk BPR, OJK Atur Permodalan
July 3, 2026BUMI Divestasi Saham CPM ke BRMS
June 30, 2026
Leave a reply Cancel reply
MOST POPULAR TAG
Most Popular
-
BP BUMN Perkuat Peran Strategis BNI Biayai Sektor Strategis
July 5, 2026BNI Permudah Reaktivasi Mobile Token BNIdirect Lewat Kanal Resmi
July 6, 2026Harga Emas Koreksi pada Juni 2026, HRTA Tetap Optimistis terhadap Pertumbuhan Bisnis
July 6, 2026Infographic
-
Alasan Klien Tunjuk Konsultan PR
July 2, 2026 -
Susunan Pemegang Saham Bank Banten Pasca Bank Jatim Masuk
November 11, 2025 -
Kinerja BPR Berkat Artha Melimpah yang Dimiliki Cucu Eka Tjipta
October 25, 2025 -
5 Subsektor dengan Realisasi PMA Terbesar di Triwulan III-2025
October 20, 2025