Dana Desa Berpotensi Mendukung Pengembangan Energi Terbarukan

0
6
Reporter: Rommy Yudhistira

Pemerintah mendukung penuh pengembangan energi terbarukan di desa. Pengembangan energi terbarukan seperti biogas dinilai bisa mengoptimalkan potensi dana desa.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Samsul Widodo mengatakan, akses terhadap energi listrik dan gas menjadi kebutuhan dasar masyarakat yang perlu dipenuhi negara. Karena itu, pengembangan energi di wilayah yang belum memiliki akses energi perlu menjadi perhatian bersama.

“Saya berharap setiap daerah mampu mengoptimalkan potensi energi terbarukan di masing-masing wilayah. Misalnya, biogas itu memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena banyak sekali desa yang memiliki peternakan dan pertanian,” kata Samsul dalam acara Pentahelix Dialogue: Mainstreaming Renewable Energy yang diselenggarakan su-re.co (PT Sustainability and Resilience) di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Menurut Samsul, dana desa dinilai bisa menjadi sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan. Tantangan utama bukan hanya soal ketersediaan anggaran, juga peningkatan kapasitas, dan pengetahuan masyarakat mengenai energi terbarukan.

“Dari sisi desa itu ada dana desa. Mereka punya uang untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Yang dibutuhkan desa adalah pengetahuan terkait potensi energi terbarukan tersebut,” tambah Samsul.

Baca Juga :   DIM dan Denera Tetapkan Mitra Terpilih Kelola Sampah Jadi Energi Listrik Tahap II

Sementara itu, Plh. Koordinator dari Direktorat Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Erick Ta’dung menambahkan, desa memiliki bahan baku berlimpah untuk pengembangan biogas seperti limbah ternak, limbah pertanian, perkebunan, dan rumah tangga.

Untuk itu, kata Erick, pihaknya mendorong kolaborasi dalam pengembangan biogas mulai dari pemerintah, produsen energi dan industri pertanian, lembaga keuangan, akademisi dan penelitian, serta berbagai mitra kerja sama.

“Perlu ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk merumuskan kebijakan, peraturan, standar, pedoman, dan pengawasan, serta memfasilitasi pengembangan biogas. Kemudian dari sisi industri perlu membangun dan mengoperasikan fasilitas untuk meningkatkan kualitas biogas,” ujar Erick.

Dari sisi riset, peneliti dari su-re.co Fabian Peri Wiropranoto mengatakan, pengembangan biogas akan memberikan manfaat luas, dan menciptakan nilai tambah secara lingkungan, ekonomi, dan sosial. Pemanfaatan biogas disebut dapat menghasilkan energi bersih, menciptakan lapangan kerja, dan membuka peluang pengembangan ekonomi lokal.

“Kenapa kita memilih biogas untuk pengembangan energi terbarukan di pedesaan? Karena biogas memiliki banyak manfaat mulai dari kesehatan hingga ekonomi sirkular. Biogas itu mengonversi limbah organik menjadi energi yang bernilai tambah,” ujar Fabian.

Baca Juga :   DPR Tunda Rapat Gabungan Bahas Kenaikan Sembako karena Mendag Lutfi Tak Hadir

Pemanfaatan energi dari pengolahan limbah organik, kata Fabian, menjadi solusi untuk mengatasi berbagai persoalan yang dialami masyarakat pedesaan. Berdasarkan kajian su-re.co, masyarakat di desa masih bergantung pada kayu bakar sebagai sumber energi utama untuk memasak. Kajian tersebut dilakukan di 3 wilayah yakni Bajawa, Sumba, dan Bali.

Kondisi itu, kata Fabian, memberikan dampak negatif seperti beban waktu dalam mencari kayu bakar, dan risiko gangguan kesehatan akibat terpapar asap. Dari catatan su-re.co, sebanyak 98% rumah tangga di Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami gangguan kesehatan akibat terpapar asap dari aktivitas memasak dengan kayu bakar.

“Di pedesaan masih jarang ditemukan energi bersih sehingga menimbulkan banyak masalah terkait kesehatan hingga emisi. Padahal di pedesaan banyak sekali bahan baku biogas berupa limbah pertanian dan peternakan,” ujar Fabian.

Dalam konteks makro, kata Fabian, pemanfaatan biogas dapat membantu Indonesia mencapai target bauran energi baru terbarukan pada 2026 sebesar 17%-21% dari total energi nasional.

Selain itu, tambah Fabian, pengembangan biogas pun akan berkontribusi dalam mengurangi beban subsidi LPG hingga Rp 1,4 triliun per tahun. Pengembangan biogas juga berpotensi menjangkau sebanyak 12,05 juta rumah tangga, dan 75.265 desa di seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga :   Fungsi Research Technology & Innovation, Garda Terdepan Inovasi Pertamina

Untuk itu, Fabian berharap kolaborasi lintas sektor mampu mewujudkan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi terbarukan. Menurut Fabian, kunci kesuksesan transisi energi ada pada kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media.

“Kami berharap pengembangan biogas bersifat bottom-up atau dari bawah ke atas. Kami sudah melakukan komunikasi dengan mitra lokal, pihak desa, hingga pemerintah daerah, agar biogas ini bisa dikembangkan di desa-desa,” tutur Fabian.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics