Kinerja Keuangan INKA Negatif, BP BUMN Dorong Transformasi dan Perkuat Fondasi Perusahaan
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria
PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA mencatat pinjaman yang tidak berkelanjutan (unsustain loan) sebesar Rp 4,7 triliun, dan kerugian perusahaan sebesar Rp 670 miliar.
Merespons itu, Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan, pihaknya mendorong INKA untuk menjalankan transformasi secara menyeluruh, dan memperkuat fondasi perusahaan. Perbaikan INKA dinilai membutuhkan komitmen bersama dari seluruh jajaran perusahaan dengan mengedepankan tata kelola yang kuat, dan benar.
“Kita ingin melakukan turnaround. Dan turnaround itu hanya bisa dilakukan kalau kita punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar,” kata Dony dalam keterangan resminya pada Selasa (15/8).
Transformasi INKA, kata Dony, akan dilakukan secara menyeluruh dengan membenahi berbagai aspek fundamental perusahaan, mulai dari model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, operasional, teknik keuangan, hingga proses bisnis.
Seluruh aspek itu, tambah Dony, dituangkan dalam grand plan transformasi yang terintegrasi, dan menjadi acuan dalam menjalankan proses perbaikan perusahaan.
Transformasi tersebut, kata Dony, tidak berhenti pada perbaikan kinerja perusahaan. Tetapi juga mampu menjadikan INKA sebagai perusahaan manufaktur yang lebih kuat, efisien, dan memiliki daya saing di industri perkeretaapian global.
Masih kata Dony, pihaknya berharap dengan fondasi keuangan dan tata kelola yang lebih sehat, INKA mampu bangkit menjadi perusahaan dengan daya saing, sekaligus menjadi motor penguatan industri perkeretaapian nasional.
“Karena saya maunya kayak tadi kan Presiden maunya industri kereta api kita ini betul-betul maju,” ujar Dony.