Strategi ANTAM Pertahankan Pertumbuhan Laba pada Semester II 2026
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM Arini Kasmira.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) menyiapkan sejumlah strategi untuk mempertahankan pertumbuhan laba pada semester II 2026. Strategi tersebut mencakup optimalisasi produksi dan penjualan, pengelolaan modal kerja dan persediaan, hingga percepatan penyelesaian berbagai kendala operasional.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM Arini Kasmira mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan laba bersih, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut ditopang oleh fundamental operasional dan arus kas yang sehat.
Pada semester I 2026, ANTAM membukukan pendapatan sekitar Rp63 triliun dan laba bersih sekitar Rp6,9 triliun. Pendapatan tersebut tumbuh sekitar 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp59 triliun. Sementara itu, laba bersih meningkat 34% dari Rp5,14 triliun.
Pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong peningkatan net profit margin ANTAM dari 8,7% menjadi 11%.
“Ke depan, kami tentu tidak melihat dari sisi bottom line saja, tetapi ada beberapa area yang menjadi fokus utama manajemen, terutama untuk leading indicator, optimalisasi produksi dan penjualan komoditas kami, terutama emas dan nikel, sehingga aset dan kapasitas yang dimiliki ANTAM itu memang menghasilkan volume dan kualitas margin yang optimal,” kata Arini dalam acara Public Expose Live BEI, Kamis (10/9).
Menurut dia, ANTAM juga akan terus menjaga margin dan daya saing biaya di tengah dinamika harga komoditas. Perseroan memiliki portofolio komoditas yang beragam, mulai dari emas, nikel, bauksit, alumina hingga perdagangan logam mulia.
Arini mengatakan pengendalian biaya menjadi salah satu aspek yang berada dalam kendali manajemen. Karena itu, perusahaan akan menjaga biaya persediaan, logistik, jumlah hari persediaan, biaya pengiriman, biaya operasional, serta biaya tetap.
Selain efisiensi biaya, ANTAM juga memperkuat pengelolaan modal kerja, persediaan, serta konversi laba menjadi arus kas. Menurut Arini, pertumbuhan laba pada semester I 2026 juga diikuti oleh arus kas yang sehat sehingga memberikan ruang bagi perusahaan untuk membiayai kebutuhan operasional dan agenda pertumbuhan.
“Jadi, laba dan cash flow-nya saling mencerminkan, sehingga ke depan fleksibilitas keuangan itu memadai untuk memenuhi agenda operasional dan juga agenda pertumbuhan kami,” katanya.