Konsumsi Rumah Tangga Turun di Kuartal II/2026 Padahal Masih Jadi Mesin Pertumbuhan

0
7
Reporter: Rommy Yudhistira

Permata Institute for Economics Research (PIER) mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin pertumbuhan pada Kuartal II/2026. Meski demikian, konsumsi rumah tangga menurun menjadi 5,06% pada kuartal II/2026, dari 5,52% pada Kuartal I/2026.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, penurunan konsumsi rumah tangga karena normalisasi belanja pasca-Lebaran. Namun, peningkatan justru terjadi di sektor investasi yang tumbuh menjadi 6,78% secara tahunan (yoy), dari sebelumnya 5,96% yoy.

“Investasi justru menguat dan menjaga momentum pertumbuhan tetap solid di atas 5%. Ini sinyal positif bahwa pertumbuhan tidak lagi bertumpu tunggal pada belanja masyarakat, meski konsistensi investasi ke depan tetap perlu dijaga di tengah tantangan eksternal,” kata Josua dalam acara Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal II 2026, Senin (10/8).

Masih soal konsumsi rumah tangga, kata Josua, belanja pakaian melambat menjadi 3,52% yoy dari 5,99% yoy. Belanja transportasi dan komunikasi melambat menjadi 5,71% yoy dari 7,38% yoy.

Meski melandai, kata Josua, konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat musim liburan sekolah, keberlanjutan program MBG, dan ekspansi ekonomi digital. Sedangkan belanja pemerintah tumbuh 15,97% yoy, yang ditopang dari pencairan gaji ke-13 ASN, dan program MBG.

Baca Juga :   Dana Catatkan Pertumbuhan Pengguna, Fitur Kirim Uang dan Transaksi QRIS di 2023

Dari sisi investasi, Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan, penguatan investasi tercatat merata hampir pada seluruh kategori aset. Kecuali pada sektor mesin dan perlengkapan.

Investasi bangunan dan struktur meningkat menjadi 6,61% yoy, dari 5,29% yoy pada kuartal sebelumnya. Peningkatan investasi didorong dari pelaksanaan proyek infrastruktur pemerintah, termasuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Di sisi lain, lanjut Faisal, investasi mesin dan perlengkapan menurun menjadi 1,32% dari 10,78% yoy. Hal itu sejalan dari pelemahan aktivitas manufaktur, yang tergambar dari penurunan PMI manufaktur Indonesia versi S&P Global ke level 46,9 pada Juni 2026, dari 50,1 pada Maret 2026.

Secara sektoral, kata Faisal, sektor jasa seperti listrik dan gas mencatat ekspansi tertinggi sebesar 10,81% yoy pada Kuartal II/2026. Di sisi lain, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 1,64% yoy, akibat keterlambatan persetujuan rencana kerja tambang dan gangguan operasional di Papua.

“Daya beli masyarakat ditopang oleh inflasi yang mereda menjadi 2,88% yoy pada Juli 2026, seiring keputusan pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga energi global,” ujar Faisal.

Baca Juga :   KPK Soroti Rumah Sentul Milik Jampidsus Febrie Adriansyah, Diduga Gunakan Nama Orang Lain

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics