BRI: 3 Tahap Pengembangan Ekosistem UMi
Wakil Presiden Direktur BRI Catur Budi Harto/Dok. BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah menyusun sejumlah strategi untuk mempercepat pengembangan ekosistem UMi (Ultra-Micro Holding) di Indonesia. BRI telah menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) untuk mempercepat pengembangan ekosistem UMi.
Lewat aksi korporasi ini, BRI menawarkan saham Seri B baru dengan jumlah maksimum 28.213.191.604 lembar saham dan harga penawaran Rp3.400 per lembar saham. Pemerintah Indonesia menggunakan seluruh haknya dalam bentuk transaksi pengalihan saham (inbreng) atas kepemilikan saham PT Pegadaian (Pegadaian) dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) kepada BRI.
Selama tiga tahun pertama, BRI ingin menjalankan strategi tahap pertama melalui rencana pascaintegrasi usaha, dan menerapkan beberapa inisiatif termasuk co-location. Tahap kedua, BRI, Pegadaian, dan PNM mulai memperkuat posisi masing-masing. Hal ini dilakukan melalui beberapa inisiatif baru, seperti kanal-kanal digital yang mempermudah pelanggan mengakses produk-produk holding UMi.
Pada tahap ketiga, BRI akan meningkatkan kemampuannya dalam mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia. Untuk itu, BRI berencana meluncurkan program pemberdayaan berskala luas demi meningkatkan literasi keuangan, pertumbuhan bisnis, dan jangkauan digital nasabah dari ketiga perusahaan tersebut.
Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto mengatakan sekitar 12 juta usaha ultra mikro memperoleh pembiayaan dari sumber-sumber informal, seperti keluarga, saudara, dan beberapa lembaga tidak resmi. Menurutnya, sekitar 14 juta usaha ultra mikro bahkan sama sekali belum mengakses pembiayaan, baik dari sumber resmi atau tidak resmi. Catur mengatakan kalangan ini menjadi sasaran pertumbuhan bisnis ultra mikro pada masa mendatang.
Dari sisi bisnis, ekosistem UMi akan mengintegrasikan bank data yang mencakup lebih dari 20 juta nasabah kredit dengan memakai fitur-fitur digital dan analisis.