Posisi Indonesia di Tengah Fragmentasi Ekonomi Global dan Deglobalisasi Parsial
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini/Dok. Paramadina
Dinamika geopolitik dan geoekonomi sangat kompleks. Namun demikian, tantangan ini juga memberikan peluang. Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai kekuatan strategis baru.
“Diplomasi Indonesia yang cukup agresif di Global South dan BRICS+ adalah politik bebas aktif yang baik dan merupakan upaya untuk tetap eksis dan survive di dunia internasional, yang rapuh secara geo-politik,” kata Didik menanggapi KTT BRICS lewat keterangan resminya.
Didik menjelaskan meskipun BRICS+ belum memiliki kekuatan militer yang solid, tetapi kekuatan ekonominya sangat besar dan menjanjikan. “Ini menandakan bahwa BRICS akan berperan di dalam dunia internasional secara signifikan,” tambahnya.
Ia menyoroti perubahan arah tatanan dunia. Menurutnya, meskipun persaingan Amerika Serikat dan Cina masih mendominasi, dunia tengah bergerak menuju realitas global yang multipolar.
“Ada kekuatan yang tidak dapat diabaikan, sebagai pemain global yang signifikan, yaitu Uni Eropa (khususnya Jerman dan Prancis), India, Turki, Iran, Brasil, dan negara-negara ASEAN semakin menentukan arah regional,” kata Didik.
Ia juga menilai bahwa lembaga-lembaga internasional seperti WTO, PBB, dan IMF mulai kehilangan pengaruh akibat konflik antar-blok.
Ia menekankan bahwa konflik dagang dan teknologi antara AS dan Cina telah memicu fragmentasi ekonomi global. “Dunia menuju deglobalisasi parsial—lebih banyak proteksionisme, ‘friend-shoring’, dan pemisahan blok dagang (barat vs timur),” jelasnya.
Namun, di tengah krisis tersebut, terbuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam sektor industri hijau.
“Peluang utama itu tidak lain adalah pengembangan industri hijau di segala sektor karena upaya dan kebijakan ini akan mendapat dukungan dunia, pemerintah maupun swasta,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa strategi pengembangan industri seperti tambang nikel dan pabrik baterai electric vehicle (EV) bisa mendongkrak devisa dan pertumbuhan ekonomi.
“Jadi krisis adalah peluang dan harus dimanfaatkan. Jangan membiarkan industri pada saat ini hanya tumbuh 3-4% saja jika tanpa upaya kebijakan yang radikal,” ungkap Didik.
Dalam kerangka politik luar negeri, Didik menegaskan pentingnya menjaga posisi bebas aktif Indonesia. “Indonesia tetap menjalankan kebijakan bebas aktif, tidak masuk ke dalam blok barat maupun Timur. Ini penting dipertahankan sehingga menempati posisi strategis secara geopolitik dan menjadi ‘Switzerland-nya Asia’ yang dipercaya semua pihak,” jelasnya.