Insan PR Diminta Bedakan Media Massa dan Pemimpin Opini Utama

0
121
Reporter: Rommy Yudhistira

Dewan Pengurus Forum Pemimpin Redaksi menyebut insan hubungan masyarakat (PR) perlu memahami perbedaan antara media massa dengan pemimpin opini utama (KOL). Dengan memahami perbedaan keduanya, PR bisa mengetahui arah dan tujuan pesan yang ingin disampaikan kepada publik.

Ketua Dewan Pengurus Forum Pemimpin Redaksi Retno Pinasti mengatakan, media massa dalam menyampaikan pesan merujuk kepada kode etik, dan aturan. Sedangkan KOL, lebih mengutamakan interaktif dengan publik, dengan sarana media sosial.

“Informasi yang diproduksi redaksi ini biasanya ditujukan untuk mass audience, sedangkan KOL untuk audience yang lebih spesifik. Jadi pilihan ada di bapak ibu (PR), ini tergantung dari jenis informasi, dan audience yang ingin dituju,” kata Retno, Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar itu dalam acara The Iconomics 6th Indonesia Public Relation Summit 2025 di Auditorium Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (8/8).

Terkait berita, kata Retno, biasanya dalam menentukan berita, media massa cenderung memilih informasi yang memiliki nilai berita, pengaruh ke publik, dan aktual. Karena itu, seorang insan PR harus mengerti terlebih dahulu posisi media massa sebelum menyebarkan informasi.

Baca Juga :   Pidato di HUT Gerindra, Prabowo Ajak Kader Pahami Keputusan dari Presiden Jokowi

Retno menambahkan, hal itu pula bisa menjadi jawaban bagi insan PR, atas alasan media massa yang lebih memilih informasi untuk disampaikan ke khalayak.

“Jadi biasanya saya sering dapat keluhan, kita sudah bikin rilis, bikin konferensi pers, tapi kenapa tidak dimuat. Saya rasa ada 3 pihak di sini. PR, media di tengah, dan publik. Media ini penting atau tidak pentingnya tergantung news value, ada aktualitasnya atau tidak, ada impact-nya atau tidak. Sementara di publik, penting atau tidaknya informasi, adalah ada manfaatnya atau tidak bagi masyarakat,” ujar Retno.

Karena itu, kata Rento, untuk menjalin kolaborasi dengan media, PR harus mencari irisan-irisan yang relevan, dan sesuai dengan konteks media. Dengan hal itu, media massa dan PR dapat berkolaborasi, dan menyampaikan informasi yang berdampak terhadap masyarakat.

“Saya rasa sangat bisa dicari irisan, dan itu tergantung dari cara penyampaiannya juga. Selain dari substansi, dari aspek, mungkin storytelling juga. Kalau dibikin menarik, akan ada emosi publik yang tersentuh, dan akan menjadi relevan,” ujar Retno.

Leave a reply

Iconomics