BPS Sebut Nilai Ekspor Januari-April 2026 Naik 5, 48% YoY

0
60
Reporter: Rommy Yudhistira

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 92,15 miliar pada periode Januari-April 2026. Jumlahnya meningkat 5,48% dibanding periode yang sama pada 2025.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, peningkatan tersebut karena naiknya ekspor non-migas sebesar 6,28%, menjadi US$ 87,7 miliar, dari US$ 82,5 miliar. Sedangkan ekspor migas turun sebesar 8,30%, menjadi US$ 4,4 miliar, dari US$ 4,8 miliar.

Penurunan ekspor migas itu, kata Pudji, karena ekspor minyak mentah anjlok sebesar 42,57% menjadi US$ 324,9 juta. Kemudian, ekspor gas alam turun 9,68% menjadi US$ 2,2 miliar. Sedangkan ekspor hasil minyak naik 4,61% menjadi US$ 1,8 miliar.

Untuk sektor non-migas, kata Pudji, komoditas yang meningkat terbesar yakni lemak minyak hewani/nabati sebesar US$ 1,87 miliar (18,80%). Sementara komoditas dengan penurunan tertinggi adalah bahan bakar mineral sebesar US$ 0,37 miliar (3,54%).

Negara tujuan ekspor, kata Pudji, Tiongkok masih menjadi yang utama dengan nilai US$ 22,7 miliar (25,93%). Kemudian, Amerika Serikat US$ 10,1 miliar (11,59%), dan India US$ 6,1 miliar (7%). Komoditas utama yang diekspor ke Tiongkok yaitu besi, baja, nikel, dan barang yang berasal dari bahan tersebut.

Baca Juga :   Kadin: Rencana Setop Ekspor Gas ke Singapura Keputusan Gemilang

“Total nilai ekspor pada Januari-April 2026 meningkat sebesar 5,48% dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang sektor industri pengolahan sebesar 7,71%,” kata Pudji dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (2/6).

Dari sisi impor, kata Pudji, BPS mencatat nilai impor sebesar US$ 86,51 miliar pada Januari-April 2026. Angkanya naik 13,40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut, kata Pudji, karena bertambahnya impor non-migas sebesar US$ 8,2 miliar atau naik 12,79% menjadi US$ 73,58 miliar. Impor migas pun meningkat 17,58% atau US$ 1,9 miliar menjadi US$ 12,93 miliar.

Lonjakan impor migas, ujar Pudji, yang dipicu dari bertambahnya impor minyak mentah sebesar US$ 565,5 juta, dan hasil minyak US$ 1,3 miliar pada periode Januari-April 2026.

Dari sisi barang, kata Pudji, golongan mesin/peralatan mekanis dan bagiannya berkontribusi besar senilai US$ 1,9 miliar (17,91%). Selanjutnya, mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya US$ 1,7 miliar (33,4%), instrumen optik, fotografi, sinematografi dan medis US$ 348,9 juta (28,76%). Plastik dan barang dari plastik US$ 328,5 juta (9,71%), besi dan baja US$ 46,6 juta (1,42%).

Baca Juga :   Dirut PT Timah Berbicara Soal Kebutuhan Kebijakan Hilirisasi dan Penghentian Ekspor Timah

Apabila dilihat dari peran impor, kata Pudji, total impor non-migas masih didominasi oleh Tiongkok sebesar US$ 30,7 miliar (41,84%). Berikutnya, Jepang sebesar US$ 4,15 miliar (5,64%), Australia US$ 4,14 miliar (5,64%), dan Amerika Serikat US$ 3,3 miliar (4,57%). Sedangkan kawasan Asean US$ 11,1 miliar (15,17%), dan Uni Eropa US$ 4,4 miliar (6,09%).

“Nilai impor bahan baku/penolong mencapai US$ 61,82 miliar, atau naik 11,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Pudji.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics