BGN Targetkan 20 Juta Penerima Manfaat hingga 15 Agustus 2025

0
44
Reporter: Rommy Yudhistira

Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim telah menjangkau 15 juta penerima makanan bergizi gratis (MBG) dan menargetkan 20 juta penerima manfaat hingga 15 Agustus 2025. Untuk saat ini, BGN mengoperasikan sebanyak 5.235 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 38 provinsi, 602 kabupaten, dan 4.770 kecamatan.

Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan, pihaknya menargetkan 82,9 juta penerima hingga akhir Desember 2025. Program itu menjadi langkah strategis untuk menghadapi laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih tinggi, yakni 6 orang per menit, atau sekitar 3 juta per tahun.

Berdasarkan data BGN, kata Dadan, populasi diprediksi mencapai 324 juta pada 2045, dan menjadi 325 juta pada 2060. Tingginya angka kelahiran berasal dari keluarga berpendidikan rendah, dan ekonomi lemah. Sedangkan kelas menengah, dan atas cenderung memiliki anak lebih sedikit.

Kondisi itu, kata Dadan, berdampak pada kualitas sumber daya manusia, apabila tidak diantisipasi sejak dini melalui intervensi gizi. “Apalagi sekarang digabungkan dengan sekolah rakyat, di mana keluarga mereka tidak mampu dikumpulkan di sekolah, diberi makan pagi, siang, malam. Jadi insyaallah 20 tahun ke depan kita sudah akan lebih baik karena ada tren yang cukup bagus, populasi Indonesia akan puncak di 325 juta di tahun 2060,” kata Dadan dalam keterangan resminya pada Kamis (14/8).

Baca Juga :   Depenas: Pengusaha Tidak Keberatan untuk Bayar THR

Dadan mengatakan, program makan bergizi gratis pun bisa menggerakkan perekonomian nasional. Dalam operasional 1 SPPG, membutuhkan 200 kilogram (kg) beras, 3.000 butir telur, 350 ekor ayam, 300 kg sayur, 350 kg buah, dan 450 liter susu. Semua pasokan itu akan diambil dari UMKM setempat.

BGN mencatat, kata Dadan, total investasi masyarakat untuk pembangunan SPPG yang beroperasi mencapai Rp 10 triliun. Total itu belum termasuk 17 ribu unit yang masih dalam tahap verifikasi. Jika target 30 ribu SPPG tercapai, diprediksi dana yang berputar sebesar Rp 40 triliun, di luar anggaran dari pemerintah.

“Jadi jangan heran kalau penjual alat rumah untuk bangun rumah itu kebanjiran pesanan dari SPPG untuk membeli baja dan lain-lain, termasuk restoran-restoran. Sekarang ini restoran, kafe, hotel berubah jadi SPPG. Jadi itu satu tanda bahwa ekonomi bergerak,” ujar Dadan.

Leave a reply

Iconomics