Perdokjasi dan Pelaku Industri Perasuransian Sepakat Urgensi Peran Aktif Dokter Memperkuat Sisjamsos dan Perasuransian Nasional

0
86

Perhimpunan Dokter Pembiayaan Jaminan Sosial dan Perasuransian Indonesia (Perdokjasi) terus mendorong keterlibatan dokter dalam industri perasuransian dan sistem jaminan sosial. Perdokjasi menegaskan urgensi keterlibatan dokter dalam memperkuat sistem jaminan sosial dan industri perasuransian nasional.

“Kami ingin dokter Indonesia bukan hanya menjadi pelaksana layanan, tetapi juga pengambil keputusan dalam tata kelola pembiayaan dan risiko kesehatan,” kata Ketua Umum Perdokjasi, Wawan Mulyawan dalam webinar nasional bertajuk Potensi dan Pengembangan Sumber Daya Profesi Dokter dalam Sistem Jaminan Sosial dan Perasuransian di Indonesia.

Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) periode 2024–2029, Mahesa Paranadipa Maikel, menyoroti perlunya perubahan paradigma peran dokter.

“Insentif kita masih lebih banyak berpihak pada yang mengobati sakit. Padahal, menjaga rakyat tetap sehat sama pentingnya dengan merawat yang sakit,” kata Mahesa dalam keterangannya. Ia menekankan pentingnya penghargaan bagi dokter yang fokus pada promotif dan preventif, seperti edukasi, skrining, imunisasi, serta gaya hidup sehat.

Ia juga menyinggung tantangan dokumentasi serta beban administratif lainnya dari sistem pembayaran kapitasi dan INA-CBG’s yang terkadang mengurangi waktu tatap muka dokter dengan pasien. Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti telemedicine, rekam medis elektronik, dan analisis data berbasis kecerdasan buatan dapat membantu meringankan beban tersebut sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan.

Baca Juga :   AIA Financial Catatkan Pendapatan Premi 2020 Sebesar Rp13,5 Triliun

Dari perspektif industri asuransi, Head of Group Life TuguRe, Kiki Oditya Gunawardhana menjelaskan bahwa kompetensi medis dokter sangat vital untuk mendukung proses underwriting dan manajemen risiko.

“Dokter bisa menjadi medical underwriter yang menilai kelayakan calon tertanggung, mencegah fraud, dan menganalisis data klaim. Dengan pemahaman medis, keputusan polis dapat lebih akurat, adil, dan efisien,” kata Kiki.

Ia juga mendorong dokter untuk menempuh pelatihan dan sertifikasi profesi, baik nasional maupun internasional, agar lebih siap menghadapi tantangan industri asuransi yang kompleks.

Hendro Sulistio dari Sequis Life juga menilai integrasi kompetensi dokter dalam sistem perasuransian merupakan kebutuhan mendesak.

“Dokter berperan strategis di underwriting, klaim, pencegahan fraud, hingga membangun hubungan dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Kehadiran dokter mampu menjaga keberlanjutan finansial perusahaan, sekaligus melindungi hak peserta,” jelasnya.

Hendro menambahkan tantangan berupa gap kompetensi dan regulasi yang kompleks harus dijawab dengan pelatihan berkelanjutan, sinergi profesi, serta pemanfaatan teknologi data analytics.

Adapun Perdokjasi menyampaikan perannya untuk menjembatani antara dokter dengan industri. Menurut Wawan, kedokteran asuransi adalah masa depan, sebuah disiplin ilmu yang menghubungkan klinis dengan tata kelola pembiayaan jaminan sosial dan perasuransian. Ia mengatakan paling lambat awal 2026, Perdokjasi siap menjembatani pembentukan Dewan Penasihat Medis di perusahaan asuransi agar mutu klinis dan ketepatan pembiayaan berjalan beriring.

Leave a reply

Iconomics