Diskusi MCorp: Tantangan Tahun Ini Disebut Terkait Lintas Industri dan Model Bisnis

0
42
Reporter: Rommy Yudhistira

Percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), dan dinamika global mendorong pelaku usaha untuk tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga menata ulang strategi jangka menengah, dan panjang. Tahun ini dinilai menjadi momen krusial untuk berbagai industri dalam membaca arah perubahan, dan memperkuat ketahanan bisnis.

Group CEO of MCorp Taufik dalam sebuah diskusi mengatakan, tantangan tidak lagi bersifat sektoral, melainkan saling terhubung lintas industri, dan model bisnis. Karena itu, perusahaan dituntut untuk memahami arah besar industri, sehingga setiap keputusan tetap relevan, dan berkelanjutan.

Itu sebanya, kata Taufik, MCorp melalui MARKET-ing Outlook 2026: Industry Perspective, menghadirkan forum diskusi yang membahas secara mendalam dinamika dan perubahan kondisi industri di Indonesia.

“Tantangan industri ke depan tidak lagi berdiri sendiri per sektor karena perubahan terjadi lintas industri, semakin cepat, dan menuntut pelaku usaha memahami arah besar industri agar strategi yang dijalankan tetap relevan,” kata Taufik di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Selasa (27/1).

Pada sesi diskusi, Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Herbudhi Setio Tomo menuturkan, industri perbankan syariah dalam kondisi stabil, dengan tantangan utama pada penguatan fundamental bisnis di tengah dinamika ekonomi dan regulasi. Selain itu, digitalisasi menjadi peluang penting apabila dimanfaatkan dengan baik.

Baca Juga :   KAI Sebut Tiket Keberangkatan untuk Lebaran Telah Terjual Lebih dari 16 Ribu

Kendati demikian, kata Tomo, penerapan digitalisasi perlu diimbangi dengan tata kelola yang kuat, dan perbedaan model bisnis syariah dengan konvensional.

“Pada saat yang sama, karakter dan keunikan model bisnis syariah harus tetap dijaga agar industri ini tetap adaptif terhadap perubahan regulasi dan kondisi ekonomi,” ujar Tomo.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Harry Susanto menilai, perubahan pola perdagangan global dan isu perubahan iklim, membentuk tantangan struktural bagi industri logistik. Untuk itu, industri logistik dituntut untuk meningkatkan fleksibilitas layanan, efisiensi operasional, dan menjalin kolaborasi lintas ekosistem.

“Di tengah tekanan geopolitik yang berpotensi menekan profitabilitas, kolaborasi dan strategi bertahan yang tepat menjadi kunci industri tetap resilien,” kata Harry.

Dari sisi manufaktur otomotif roda 2, Head of Commercial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala mengatakan, industri sepeda motor pada 2026 akan mengalami persaingan yang ketat akibat masuknya pemain baru. Merespons persoalan itu, AISI berkolaborasi dengan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) untuk mendorong industri agar tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga menjaga kualitas, kesehatan industri, dan keberlanjutan ekosistem, serta lingkungan.

Baca Juga :   Dirut Indonesia Re: Perusahaan Reasuransi Penting agar Industri Asuransi Tetap Solid

“Pada 2025, pasar sepeda motor nasional masih tumbuh sekitar 1,3% dengan penjualan mencapai 6,41 juta unit. Pertumbuhan ini relatif tipis, dengan indikasi penguatan permintaan di luar Jawa di kisaran 6-7%, sementara Jawa cenderung stagnan sekitar 1%. Karena itu, ke depan fokus industri tidak hanya pada volume, tetapi bagaimana pertumbuhan dapat berjalan selaras dengan quality dan sustainability,” ujar Sigit.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics