Menteri ESDM Ungkap Dampak Hilirisasi Pertambangan, Mind ID Siap Jadi Penggerak Hilirisasi

0
70

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mundur dalam menjalankan agenda hilirisasi sumber daya alam, meskipun menghadapi berbagai tekanan dari pihak luar maupun dalam negeri.
Menurut Bahlil di Minerba Convex 2025, hilirisasi telah terbukti memberikan nilai tambah besar bagi perekonomian nasional. Ia mencontohkan transformasi industri nikel yang awalnya hanya menghasilkan ekspor senilai US$3,3 miliar pada 2017–2018, kini naik US$35–US$40 miliar per tahun setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih mentah dan mendorong pembangunan industri pengolahan dalam negeri.
“Ini bentuk kehadiran pemerintah dalam membangun roadmap pengelolaan sumber daya alam yang berbasis nilai tambah serta menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Bahlil dalam keterangannya.
Dia juga menyoroti keberhasilan pembangunan smelter tembaga oleh Freeport Indonesia di Gresik dengan investasi mencapai US$3 miliar, yang kini mampu mengolah 3 juta ton konsentrat menjadi 50–60 ton emas per tahun.
Bahlil mengungkapkan pemerintah pun tengah menyiapkan 18–20 proyek strategis senilai US$38 miliar atau sekitar Rp618 triliun yang telah diserahkan ke Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
Proyek-proyek ini diyakini mampu menciptakan lebih dari 1 juta lapangan kerja langsung dan tidak langsung, sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Bahlil juga menekankan pentingnya pengelolaan tambang secara berkelanjutan dan berkeadilan, termasuk redistribusi izin usaha pertambangan (IUP) kepada UMKM, koperasi, dan BUMD daerah agar masyarakat lokal menjadi tuan di wilayahnya sendiri.
MIND ID pun menegaskan komitmennya dalam mendukung transformasi industri nasional sebagai bagian dari upaya membangun peradaban masa depan.
Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama mengatakan MIND ID bersama seluruh anggota grup akan terus menjadi penggerak hilirisasi untuk dapat terus mendukung transformasi industri demi memberi manfaat besar bagi kehidupan masa depan.
Pria menjelaskan perubahan bentuk energi dan teknologi di berbagai sektor menunjukkan bagaimana peran mineral tambang tetap menjadi inti dari setiap fase kemajuan industri. Dahulu batu bara menjadi tenaga utama lokomotif, kini kereta listrik berjalan dengan energi yang dihantarkan lewat kabel tembaga. Jika sebelumnya besi dan baja mendominasi era mesin berbahan bakar fosil, kini tembaga, aluminium, dan nikel menjadi tulang punggung kendaraan listrik. Sementara itu, mineral timah memainkan peran penting dalam sistem teknologi digital berkat sifat konduktivitas listriknya yang tinggi.

Leave a reply

Iconomics