Penetrasi Asuransi Masih Rendah, Presdir Sinarmas MSIG Life Bandingkan Indonesia dengan Negara Asean Lainnya
Presiden Direktur Sinarmas MSIG Life Wianto Chen (nomor 2 dari kiri)/Dok. Sinarmas MSIG
Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 cukup tinggi, bahkan sempat mendapat disebut the bright spot in the dark. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi ini tidak diiringi dengan tingkat penetrasi asuransi yang saat ini masih rendah. Padahal asuransi sangat penting untuk memproteksi diri sendiri maupun keluarga.
“Ekonomi baik, tapi yang punya asuransi, kita punya Gross Domestic Product (GDP) ya, uang yang dialokasikan untuk asuransi ini cuma 1,5% dari GDP,” ucap Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk, Wianto Chen dalam acara MSIG Life 38h Anniversarry Launch of My Health Risk Score pada Kamis (13/04/2023).
Beda dengan Thailand sebesar 3%, Malaysia 4%, Jepang 6%, dan Singapura 7%. Meskipun memiliki wilayah yang kecil, namun jumlah perusahaan asuransi yang dimiliki Singapura, jauh lebih banyak dibandingkan Indonesia.
“275 juta penduduk punya 53 perusahaan asuransi, Singapura punya berapa? 77 (perusahaan asuransi), lebih banyak padahal negara kecil,” jelas Wianto Chen.
Menurutnya, kesadaran alokasi keuangan jangka panjang di Indonesia masih sangat minim padahal kalau terjadi gangguan kesehatan atau penyakit, maka rumah tangga bisa runtuh. Wianto menyebutkan bahwa semua orang tahunya simpan uang di bank, ikut macam-macam arisan dll.
“Tapi simpan uang jangka panjang untuk rumah tangga ga mau. Nah ini buktinya penetrasinya masih rendah,” lanjutnya.
Wianto menjelaskan bahwa sebetulnya apabila GDP Indonesia terus tumbuh di angka 5% maka penetrasi pun otomatis akan naik. Bahkan, di 2030 nanti penetrasi bisa naik dua kali lipat, meskipun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding negara Thailand.
Ia juga menyoroti tiga hal yang harus diupayakan untuk selalu meningkatkan kualitas hidup. Pertama, safety atau aman dengan memiliki proteksi. Kedua, kesehatan atau membangun awareness tentang kesehatan. Terakhir, sejahtera dengan cara memberikan kesadaran supaya orang sadar untuk mengalokasikan keuangan jangka panjangnya.