Peningkatan Konsumsi Kunci Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi

0
626

Pandemi Covid-19 telah menghantam seluruh sendi ekonomi Indonesia: hotel-hotel sunyi dan pusat perbelanjaan sepi pengunjung. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, lebih dari 3,5 juta orang telah kehilangan pekerjaan selama pandemi. Tingkat pengangguran yang sempat turun ke posisi 6,8 juta orang pada Februari 2020, naik melampaui 10 juta orang hanya dalam waktu enam bulan.

Tak hanya berdampak besar pada bisnis perusahaan, pandemi dan pembatasan mobilitas mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Tak terkecuali perilaku konsumen dalam berbelanja. Perubahan tersebut terungkap dari survei yang dilakukan oleh Bank DBS Indonesia. Dalam survei yang dilakukan secara daring selama dua minggu pada pertengahan Juni lalu, Bank DBS Indonesia mengeksplorasi perubahan perilaku belanja konsumen selama pandemi Covid-19.

Untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi akibat pandemi Covid-19, menurut survei Bank DBS Indonesia, sebagian besar responden memilih mengerem belanja, paling tidak hingga enam bulan ke depan. “Pendapatan mereka sebagian besar ditabung dan diinvestasikan daripada dihabiskan untuk belanja barang-barang atau pun beraktivitas,” tulis DBS Indonesia dalam siaran pers, Rabu (14/10).

Baca Juga :   DBS Indonesia Berikan Pembiayaan Rp100 Miliar untuk UMKM Lewat Modalku

Survei Bank DBS Indonesia mengungkapkan ada lima temuan kunci saat melakukan survei terhadap lebih dari 500 responden yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa, termasuk Jakarta dan sebagian kecil luar Pulau Jawa. Hasilnya, terdapat perubahan sikap masyarakat terhadap kesehatan: lebih fokus terhadap kebutuhan rumah, memilih untuk memasak makanan sendiri, dan beralih berbelanja melalui platform e-commerce. Ada pun, belanja kebutuhan sehari-hari secara tradisional pun ikut berubah.

“Responden menyebutkan bahwa kesehatan dan kebersihan adalah hal berharga dan terdapat perubahan cara pandang terhadap dua hal itu,” ungkap survei tersebut. Sekitar 54% responden mengonsumsi lebih banyak vitamin dan suplemen.

Ada pun dalam hal makanan, 69% responden memilih mengonsumsi makanan yang dimasak sendiri. Sekitar 84% responden memilih beraktivitas dari rumah. Mulai dari kerja, belajar dan aktivitas lainnya. Perubahan perilaku belanja pun turut terlihat. Belanja online di situs e-commerce meningkat 66% setelah pandemi, di mana sebelum pandemi hanya 14%. Belanja di pusat perbelanjaan turun secara signifikan mencapai 24%, padahal sebelum pandemi Covid-19, 72% responden memilih belanja di toko.

Baca Juga :   Krakakoa dan DBS Indonesia Kerja Sama Ciptakan Tabungan Hijau untuk Petani

Belanja kebutuhan sehari-hari ke pasar tradisional pun terjun bebas. Responden memilih menggunakan platform aplikasi belanja sembako karena akses membeli produk segar di pasar terkendala Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Juga, adanya peningkatan kesadaran akan kebersihan.

Aplikasi toko online sebagai tempat pilihan responden untuk berbelanja naik tujuh kali lipat dari tiga persen sebelum pandemi menjadi 21 persen. Mereka yang masih berbelanja ke pasar tradisional turun tajam menjadi 30% dari 52% sebelum pandemi.

Akibat pandemi dan rendahnya konsumsi rumah tangga karena konsumen yang cenderung mengerem belanja, DBS telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi minus satu persen dari perkiraan sebelum pandemi 5,3%.

Hingga akhir Agustus lalu, Pemerintah masih berharap resesi bisa dihindari. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah bakal habis-habisan menggunakan seluruh instrumen untuk menjaga perputaran mesin perekonomian, terutama pada kuartal ketiga 2020.

Halaman Berikutnya
1 2

Leave a reply

Iconomics