Perang Iran Lawan AS-Israel Meningkat Bikin IHSG Tertekan
Ilustrasi perdagangan saham di BEI/Dok, Ist
Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan posisi melemah -2,66% atau -218,65 poin di level 8.016,83. Tekanan pun terlihat pada pasar saham kawasan Asia yang bergerak serempak di zona merah.
Head of Investment Eastspring Investments Liew Kong Qian mengatakan, pelemahan IHSG karena kehati-hatian investor terhadap risiko eksternal. Tekanan datang dari saham-saham dengan kapitalisasi besar seperti BREN (-5,47%), BMRI (-3,79%), ASII (-5,62%), TPIA (-10,82%), dan BBCA (-2,09%).
Meski demikian, kata Liew, sektor energi mencatat kinerja relatif lebih baik, dibanding sektor lainnya. Pada pasar keuangan lainnya, nilai tukar rupiah melemah 0,48% ke Rp 16.868 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kemudian, kata Liew, pasar obligasi juga mengalami tekanan, yang tercermin dari kenaikan imbal hasil SBN tenor 5 tahun sebesar 7 bps ke level 5,85%, dan tenor 10 tahun yang naik ke level 6,46%.
“Konflik yang melibatkan Iran dan AS serta Israel, memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Situasi kian memanas menyusul laporan mengenai terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 1/5 perdagangan minyak dunia,” kata Liew dalam keterangan resminya pada Senin (2/3).
Bagi Indonesia, lanjut Liew, risiko eskalasi konflik akan mempengaruhi perdagangan komoditas, khususnya minyak, dan pasar keuangan. Ketegangan geopolitik berpotensi mendorong lonjakan harga energi global, pada akhirnya dapat memperburuk tekanan inflasi dalam negeri.
“Dalam konteks Indonesia, situasi ini berisiko meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi untuk menjaga stabilitas harga domestik. Akibatnya, tekanan fiskal berpotensi meningkat, termasuk risiko pelebaran defisit anggaran jika beban subsidi meningkat secara signifikan,” tambah Liew.
Sedangkan risiko dari sisi pasar keuangan, ujar Liew, aset negara berkembang cenderung mengalami tekanan seiring terjadinya pergeseran investasi menuju safe haven. Pergeseran ini berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar domestik.
Dinamika itu, kata Liew, berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah, dan menambah tekanan pembiayaan eksternal.
“Namun, pergerakan ini cenderung mereda jika konflik tetap terkendali dan tidak meningkat menjadi krisis yang lebih luas. Saat ini, selama belum ada tanda-tanda deeskalasi yang jelas, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi, terutama pada aset berisiko, nilai tukar, dan komoditas energi,” ujarnya.