Permata Bank Mencetak Kinerja Positif di 2025, Laba Setelah Pajak Capai Rp 2,6 T

0
62
Reporter: Rommy Yudhistira

PT Bank Permata Tbk mencatat total pendapatan senilai Rp 12,6 triliun atau meningkat 3,8% pada 2025. Kenaikan pendapatan karena dorongan dari kontribusi pendapatan non-bunga yang naik 34,1% menjadi Rp 2,6 triliun.

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, Permata Bank pun membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 2,6 triliun. Penyaluran kredit meningkat 5,5% menjadi Rp 163,3 triliun, dan kualitas kredit dengan rasio NPL gross di level 2,1% hingga akhir 2025.

“Di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang tahun 2025, Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin, prudent, dan konsisten menempatkan nasabah sebagai pusat dari setiap rencana dan keputusan,” kata Meliza dalam keterangan resminya pada Kamis (12/2).

Selanjutnya, kata Meliza, rasio loan to deposit (LDR) tercatat sebesar 84,5% hingga akhir 2025. Liquidity coverage ratio (LCR) rata-rata pada level 296,5%, dan net stable funding ratio (NSFR) di level 126,8%.

Secara keseluruhan, kata Meliza, total aset Permata Bank naik sebesar 3,6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 268,3 triliun per Desember 2025. Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah meningkat 3,9% yoy menjadi Rp 192,8 triliun.

Baca Juga :   Pegadaian Bukukan Laba Bersih Rp 4,38 T di 2023 atau Naik 32,7% dari 2022

Kenaikan pendanaan tersebut, kata Meliza, karena pertumbuhan CASA 20,1%, dan rasio CASA pun meningkat menjadi 63,9% dari sebelumnya 55,3% pada 2024.

Dari sisi kontribusi Permata Bank unit syariah, lanjut Meliza, tercatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp 785,3 miliar, tumbuh 8,1% yoy. Pertumbuhan itu didukung dengan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh 6,4% yoy.

Pada pendanaan, lanjut Meliza, simpanan nasabah syariah mencapai Rp 27,0 triliun, yang didorong dari pertumbuhan CASA sebesar 13,4% yoy. Hal itu menjadikan rasio CASA unit usaha syariah meningkat menjadi 73,6%, atau di atas rata-rata industri perbankan syariah di Indonesia.

“Melalui penguatan kapabilitas digital, inovasi produk, dan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan, kami membangun bank yang bertumbuh secara bertanggung jawab, tetap dekat dengan nasabah, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Meliza.

Leave a reply

Iconomics