PIS Laksanakan 3 Strategi sebagai Pelaku Utama di Rantai Logistik Energi Asia, Apa Saja?

0
64
Reporter: Rommy Yudhistira

PT Pertamina International Shipping (PIS) menegaskan posisinya sebagai katalisator transformasi maritim nasional dengan menerapkan 3 strategi utama. PIS melaksanakan 3 strategi itu sebagai pelaku utama di rantai logistik energi Asia.

Dari 3 strategi tersebut, kata Direktur Keuangan PIS Diah Kurniawati, langkah pertamanya dengan meningkatkan kapabilitas infrastruktur domestik seperti terminal dan pelabuhan. Kedua, diversifikasi kargo seperti petrokimia dan dry bulk dan ketiga, fokus pada pengembangan teknologi baru serta sumber daya manusia, guna meningkatkan efisiensi operasional.

“Kami terus memperkuat daya saing PIS di tingkat global, dengan mengedepankan efisiensi, keberlanjutan, dan teknologi terkini,” kata Diah dalam keterangan resminya pada Senin (2/6).

Sebagai perusahaan yang berpartisipasi dalam ajang Indonesia Maritim Week (IMW) 2025, kata Diah, PIS menyoroti inisiatif berbasis prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang telah dijalankan perusahaan. “Dari perspektif peran saya sebagai CFO, visi saya adalah menjadikan Indonesia pusat global untuk logistik maritim yang berkelanjutan dan cerdas. Ini berarti pelabuhan dan armada terintegrasi secara digital dan didukung oleh energi bersih,” ujar Diah.

Baca Juga :   Sepanjang 2023, Pertamina Hulu Rokan Jadi Penghasil Migas Nomor 1 Indonesia

Selanjutnya, kata Diah, PIS pun memastikan perannya dalam ekosistem Pertamina Group. Subholding energi bersih seperti Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) berperan penting dalam mendukung transisi energi nasional, yang sejalan dengan arah strategis sektor maritim global.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal International Maritime Organization (IMO) Arsenio Dominguez mengatakan, langkah PIS sejalan dengan IMO yang mendorong efisiensi, dan keberlanjutan di sektor maritim internasional. Asia khususnya Indonesia, berpotensi besar di industri maritim, buktinya 95% pembuatan kapal di dunia berada di kawasan ini.

Lalu, kata Arsenio, pelabuhan terbesar dunia juga berada di Asia. Begitu pula dengan transaksi impor-ekspor sebanyak 40%-60% ada di Asia.

“Begitu juga pelaut, Asia masuk 4 besar pemasok pelaut di dunia dan Indonesia ada di peringkat 3. Misi saya untuk Indonesia, untuk Asia, dan sebenarnya untuk sektor ini secara global, adalah agar kita fokus pada tindakan nyata dan hasil yang dapat dirasakan. Kita sudah memiliki alatnya. Kita hanya perlu mulai bergerak maju dengan apa yang sudah kita katakan akan kita lakukan,” ujar Arsenio.

Baca Juga :   Pertamina NRE Gandeng Perusahaan EBT Filipina Untuk Investasi di Indonesia Melalui Kepemilikan Saham

Di samping itu, kata Arsenio, pihaknya menilai pentingnya peran digitalisasi dalam industri maritim. Penggunaan digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi kapal, dan operasional pelabuhan.

“Jangan berhenti berkembang dalam hal keamanan maritim, keselamatan, dan menjaga lingkungan. Bagaimana agar bisnis ini berkelanjutan? Kita perlu menambah investasi di sektor ini tentunya,” tambah Arsenio.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics