Refleksi 81 Tahun Republik Indonesia Merdeka: Suara Para Perempuan Soroti Ketimpangan

0
8

Peran perempuan dalam pembangunan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesenjangan gender, keterwakilan dalam pengambilan keputusan, hingga akses terhadap posisi strategis di ruang publik.

Dalam diskusi online “Refleksi Kemerdekaan oleh Perempuan Paramadina: Bidang Ekonomi dan Sosial Politik”, akademisi Universitas Paramadina, Prof. Dr. Iin Mayasari menekankan bahwa salah satu ukuran kemerdekaan perempuan adalah tersedianya ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis di ruang publik.

Menurut Iin, perempuan tidak lagi sekadar menjadi penopang domestik, tetapi telah menjadi penggerak usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan motor ketahanan ekonomi keluarga.

Ia juga menilai keterlibatan perempuan dalam sosial politik membawa perspektif yang lebih inklusif, humanis, dan berkeadilan. Keterwakilan perempuan di parlemen, pemerintahan, maupun organisasi sosial disebut menjadi bagian penting dalam membangun demokrasi yang lebih baik. Meski demikian, ketimpangan gender, hambatan kultural, dan akses yang belum merata masih menjadi tantangan.

Sementara itu, Dr. Rini Sudarmanti yang juga akademisi dari Universitas Paramadina juga mempertanyakan apakah ruang publik bagi perempuan Indonesia benar-benar telah merdeka pada usia kemerdekaan yang ke-81.

Ia menyebut sejumlah indikator telah menunjukkan perbaikan, seperti indeks ketimpangan gender, tingkat partisipasi angkatan kerja, keterlibatan perempuan dalam ekonomi kreatif, serta keterwakilan perempuan di legislatif.

Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan posisi strategis perempuan. Rini mencatat bahwa meskipun jumlah perempuan lulusan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) cukup besar, perempuan yang bekerja di bidang sains dan teknologi hanya sekitar 8%. Di pemerintahan, perempuan disebut telah mencapai 57%, tetapi yang berada di posisi puncak strategis baru sekitar 17%.

Baca Juga :   Transformasi Digital Banking Jadi Agenda Utama Bank Mandiri

“Yang mengejutkan, ternyata angka Tingkat kekerasan terhadap perempuan angkanya banyak sekali,” kata Rini.

Ia juga menyoroti kesenjangan gender yang masih terjadi di ruang publik. Dalam materi yang disampaikan, angka gender gap disebut berada pada 0,692, yang menunjukkan masih adanya ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan publik.

Dari perspektif psikologi positif, akademisi Universitas Paramadina, Dr. Fatchiah E. Kertamuda menjelaskan bahwa makna kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kemampuan membangun rasa percaya diri, harga diri, kebanggaan terhadap Indonesia, kecerdasan, wellbeing keluarga, dan kesejahteraan masyarakat.

“Ditinjau dari psikologi positif, makna kemerdekaan secara hakiki adalah pertama, bagaimana kita membangkitkan rasa percaya diri, harga diri dan kebanggaan thd Indonesia. Tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi, tapi juga dari kecerdasan, wellbeing dari keluarga dan kesejahteraan masyarakat umumnya,” katanya.

Ia menempatkan keluarga sebagai lingkungan pertama tempat anak belajar dan berkembang. Dukungan keluarga juga dinilai menjadi faktor penting bagi perempuan yang mengambil peran di ranah sosial. Dalam kerangka psikologi positif, ia menyoroti lima hal yang perlu dibangun, yakni positive emotion, engagement, hubungan yang sehat, meaningful, dan accomplishment.

Dalam perspektif ekonomi, Dr. Prima Naomi menyampaikan bahwa perempuan saat ini telah menjadi aktor penting di sektor publik sekaligus penggerak ekonomi. Data yang dipaparkan menunjukkan tingkat partisipasi perempuan dalam dunia kerja mengalami peningkatan, dari 52,44% menjadi 56,63% pada 2025. Indeks pembangunan gender perempuan juga meningkat dengan angka 91,85 pada 2025.

Baca Juga :   Peluang dan Tantangan Indonesia di Tengah Perseteruan Rusia-Ukraina

Namun, posisi Indonesia dalam Global Gender Gap Index masih menunjukkan adanya pekerjaan rumah. Prima menyebut Indonesia berada di posisi 90 dari 148 negara yang masuk dalam indeks tersebut. Kesenjangan terbesar terdapat pada aspek political empowerment, disusul economic participation and opportunity.

Sementara itu, Dr. Peni Hanggarini mengangkat isu keterlibatan perempuan dalam diplomasi. Ia menjelaskan bahwa sejak era pascakemerdekaan, perempuan Indonesia telah mengambil peran dalam diplomasi internasional, antara lain Maria Ulfah Subadio, Laily Roesad, dan Supeni Pujobuntoro.

Meski demikian, keterwakilan perempuan dalam posisi strategis diplomasi masih terbatas. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pada 2018 jumlah pegawai perempuan di Kementerian Luar Negeri RI sekitar 37%, sedangkan laki-laki 63%. Dari 75 duta besar pada periode tersebut, perempuan hanya sekitar 13%. Kepala perwakilan perempuan mencapai 15% dan posisi di konsulat jenderal sekitar 18%.

Dalam bidang sosial politik, Tia Rahmania, M.Psi., menegaskan bahwa keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan merupakan salah satu indikator demokrasi yang sehat. Menurutnya, persoalannya bukan sekadar berapa banyak perempuan yang menjadi anggota legislatif, tetapi apakah perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berada di tempat keputusan dibuat.

Baca Juga :   PDI Perjuangan Bangun Komunikasi dengan Parpol yang Hubungannya Dekat Pemerintah

“Demokrasi yang memberikan ruang untuk dipilih dan memimpin bagi Perempuan, adalah demokrasi yang sehat. Sehingga Perempuan juga bisa membentuk kebijakan, dan ikut menentukan arah Pembangunan bangsa,” kata Tia.

Ia menilai keterlibatan perempuan penting karena kebijakan publik bersentuhan langsung dengan kehidupan perempuan, mulai dari kebijakan pangan, pendidikan, kesehatan ibu, ekonomi keluarga, hingga anggaran negara. Ketika perempuan tidak cukup terwakili dalam proses pengambilan keputusan, pengalaman dan kebutuhan perempuan berpotensi tidak terdengar dalam proses penyusunan kebijakan.

Sementara itu, Hendriana Werdaningsih, Ph.D. membahas peran perempuan dalam industri masa depan melalui konsep craftsmanship. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan peran kerja berbasis keterampilan. Justru, craftsmanship dinilai berpotensi berkembang menggantikan sebagian pola mass production dengan dukungan teknologi.

“Karakter Perempuan akan selalu menjadi nafas dan manufacture masa depan yang lebih manusiawi,” kata Hendriana.

Menurut Hendriana, craftsmanship tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga karakter kerja yang mampu menghadapi risiko dan kepastian. Pekerjaan tersebut juga berkaitan dengan passion, kolaborasi komunitas, serta produk yang memiliki keseimbangan antara nilai komoditas dan sentuhan personal.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics