Tahan Lama, Bisnis Waralaba F&B Diyakini Akan Tetap Berkembang di 2021

0
1153

Bisnis waralaba makanan dan minuman disebut bisnis yang tahan lama. Bahkan di masa pandemi Covid-19, bisnis waralaba makanan dan minuman tetap menjanjikan. Terlebih masyarakat pasti butuh makan dan minum.

“Permintaannya juga masih ada. Kami masih yakin di tahun ini cukup banyak yang mencari alternatif bisnis dan salah satunya bisnis waralaba makanan dan minuman,” tutur CMO PT Otewe Maju Bersama Tjoek Widharyoko dalam diskusi virtual Shopee Talk, Rabu (27/1).

Tjok bercerita, pihaknya mulai masuk dalam bisnis waralaba makanan dan minuman sejak 2015. Berawal dari bersama dengan 4 orang temannya membuka OTW Food Street di bilangan Jakarta Selatan. Pada waktu itu tidak ada niat untuk masuk ke bisnis waralaba.

Setelah itu, kata Tjoek, masih bersama dengan 4 temannya itu, mereka membuka satu cabang di kawasa Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sejak itu, ada banyak permintaan untuk bermitra. Karena permintaan itu, kata Tjoek, pihaknya lalu masuk dalam bisnis waralaba makanan dan minuman.

“Kita belajar dari situ dan mulai membuat merek baru yang memang ditujukan untuk waralaba. Selama menjalankan usaha waralaba makanan dan minuman banyak tantangan dan masalah,” kata Tjoek.

Baca Juga :   Proses Digital di BRI Meliputi 3 Hal, Ini Penjelasannya

Tjoek mengatakan, beberapa merek di bawah PT Otewe Maju Bersama yang kini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah adalah Ropang OTW (32 cabang), Kopi Yor (lebih dari 100 cabang), Tahu Go (lebih dari 300 gerai) dan terbaru Bakwan Day (75 cabang).

Soal waralaba untuk Bakwan Day ini, kata Tjoek, sebenarnya mengikuti mereka Tahu Go. Makanan sederhana yang sehari-hari yang diminati masyarakat. Sebelum meluncurkan merek tersebut, perseroan terlebih dulu melakukan survei untuk “kasta” tertinggi dalam makanan gorengan.

“Nah, hasil survei itu keluar nama bakwan. Dan setelah kita luncurkan, pasar yang ingin menjadi mitra tinggi karena skemanya cukup simpel. Kita luncurkan di masa pandemi. Ini paket termasuk gerobak dan bahan baku sehingga mitra tinggal jualan. Tentu saja karyawannya kita latih terlebih dulu,” kata Tjoek.

Menurut Tjoek, merek Bakwan Day bisa berkemang cepat karena lebih fleksibel jika dibandingkan Tahu Go meski sama-sama makanan keseharian yang diminati masyarakat. Ini pula yang membuat ekspansi Bakwan Day lebih mudah dan tersebar di berbagai daerah bahkan di luar Pulau Jawa.

Baca Juga :   Dampak Covid-19 dan Percepatan Transformasi di Sektor Ketenagakerjaan

“Syarat waralaba kami salah satunya harus ambil bahan baku dari pusat. Nah, kita masih mampu mendistribusikan bahan bakunya dari pusat. Ini untuk mempertahankan kualitas produk kita. Namun, kalau tahu kita harus bangun dulu pabrik tahu di daerah-daerah karena pusat belum sanggup memenuhi bahan bakunya,” kata Tjoek.

 

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics