Banyak Bank Tawarkan Bunga di Atas LPS, Ketua LPS Soroti Dampaknya ke Kredit

0
44

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu mengungkapkan masih banyak bank yang menawarkan suku bunga simpanan di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) yang ditetapkan LPS. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang menahan penurunan suku bunga kredit perbankan.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (9/4/2026), Anggito menyebut sekitar 33 persen simpanan perbankan saat ini berada di atas tingkat bunga penjaminan.

“Artinya bank-bank belum patuh kepada tingkat bunga penjaminan yang kita tetapkan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa suku bunga kredit tidak bisa turun, karena 33% simpanan itu tergolong di atas tingkat bunga penjaminan,” ujar Anggito.

Ia menjelaskan, simpanan dengan bunga di atas TBP umumnya masuk dalam kategori special rate, yang diberikan bank untuk menarik dana nasabah. Namun praktik ini berdampak pada meningkatnya biaya dana (cost of fund) perbankan.

Akibatnya, ruang bagi bank untuk menurunkan suku bunga kredit menjadi terbatas, meskipun likuiditas di sektor perbankan tergolong memadai.

Baca Juga :   KSSK: Tekanan Jual Investor Asing di Pasar Modal Sudah Berkurang

Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit perbankan pada Februari 2026 tumbuh sebesar 9,37% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan perkembangan Januari 2026 sebesar 9,96% (yoy).

Bank Indonesia dalam keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026 menyampaikan bahwa transmisi penurunan suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, meski lebih terbatas.

BI mencatat suku bunga deposito 1 bulan turun sebesar 64 bps dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,17% pada Februari 2026. Bank sentral  mendorong perbankan untuk terus mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar. Per Maret 2026, menurut data BI, jumlah special rate ke deposan besar ini sebesar 26,64% dari Dana Pihak Ketiga (DPK), menurun dari 26,42% pada Februari 2026.

Sementara itu, suku bunga kredit pada Februari 2026 mencapai sebesar 8,80%, atau baru turun 40 bps, dari 9,20% pada Januari 2025.

“Ke depan, upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers 17 Maret lalu.

Baca Juga :   LPS Punya Dana hingga Rp 120 T untuk Jaga Stabilitas Perbankan

Anggito mengatakan TBP LPS umumnya berada di atas suku bunga pasar. Namun pada penetapan tahun 2025, TBP  ditetapkan secara cukup agresif hingga berada di bawah suku bunga pasar. Padahal, secara umum (rule of thumb), TBP seharusnya berfungsi melindungi dan mengikuti perkembangan suku bunga yang berlaku di pasar.

“Makanya untuk yang Januari ini (2016) kita sedikit melakukan evaluasi dan kita menetapkan TBP  itu sama dengan kondisi sebelumnya (di atas berada di atas suku bunga pasar),” ujarnya.

Saat ini, LPS menetapkan TBP sebesar 3,5 persen untuk simpanan rupiah di bank umum, 2 persen untuk valas, dan 6 persen untuk BPR.

Anggito mengatakan bersama KSSK, LPS juga terus mendorong fungsi intermediasi perbankan. LPS secara rutin memantau perkembangan dana pihak ketiga (DPK) serta penyaluran kredit oleh perbankan.

Pada 2025, DPK tercatat tumbuh sebesar 13,83 persen, antara lain dipengaruhi oleh penempatan dana dari Kementerian Keuangan ke bank-bank Himbara. Namun, pertumbuhan tersebut belum diimbangi dengan peningkatan penyaluran kredit.

Baca Juga :   Corporate Communications Talks Edisi Keempat Mengupas Strategi Komunikasi yang Adem di Tengah Kondisi yang Panas

Tren ini diperkirakan masih berlanjut pada awal 2026. 

“Kami bersama dengan KSSK terus memantau dan memberikan arah agar bank-bank itu  dapat melakukan ekspansi yang dibutuhkan untuk perekonomian kita,” ujarnya.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics