BI Ajak Sinergi untuk Tumbuhkan Rasa Optimistis demi Pemulihan Ekonomi

0
704

Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan hingga Kadin bersinergi untuk menumbuhkan rasa optimistis dari daerah ke daerah. Komunikasi yang dilakukan yang cukup sering tujuannya untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

“Insya Allah, itu dapat menumbuhkan rasa optimistis, dan semoga perekonomian kita tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu. Itu sebabnya, BI perkirakan ekonomi kita akan tumbuh 4,3% hingga 5,3%,” tutur Gubernur BI yang juga Ketua Umum Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (Kafegama) Perry Warjiyo dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (1/4).

Perry mengatakan, perkiraan pertumbuhan itu didukung oleh ekspor, stimulus fiskal dan kenaikan investasi. Bahwa sinergi antara pemerintah, BI, OJK, perbankan dan dunia usaha terus diperkuat. Pemerintah sebagaimana yang akan disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal stimulus fiskal akan terus dilakukan untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Di samping itu, kata Perry, penanaman modal juga akan terus didorong antara lain melalui Undang Undang Cipta Kerja. Sementara BI akan terus mengarahkan kebijakannya tidak saja hanya untuk menjaga stabilitas tapi juga mendukung pemulihan bersinergi erat dengan pemerintah.

Baca Juga :   Fintech Summit: Peluang Pertumbuhan Fintech dan Tantangan Pendanaan UMKM

“Kami telah menurunkan suku bunga terendah dalam sejarah menjadi 3,5%. Kami terus memastikan likuiditas di perbankan itu sangat longgar. Pelonggaran likuiditas (quantitative easing) kami lakukan Rp 776 triliun yang terbesar di antara emerging market,” kata Perry.

Menurut Perry, BI juga berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan antara fiskal dan moneter yang sangat erat. Semisal, partisipasi BI dalam pendanaan anggaran pendapatan belanja negara (APBN) baik 2020 maupun 2021. Untuk 2020, misalnya, pendanaan BI mencapai Rp 473,4 triliun lewat skema burden sharing. Sementara untuk tahun ini hingga 16 Maret 2021 mencapai Rp 65 triliun.

“Kami juga lakukan relaksasi di bidang kebijakan makroprudensial, terakhir untuk uang muka perumahan dan kredit kendaraan bermotor yang 0%. Kami juga melakukan digitalisasi sistem pembayaran. Juga mendukung buatan Indonesia dan berwisata di Indonesia.  Jadi mari terus bersinergi untuk pemulihan ekonomi menuju Indonesia maju,” kata Perry.

 

Leave a reply

Iconomics