BI Gelar RDG, Ekonom; Masih Ada Ruang untuk Pangkas Suku Bunga Acuan
Ekonom BCA David Sumual/Iconomics
Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada 19-20 Agustus. Setelah pada Juli lalu menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin, ekonom menilai masih ada ruang bagi bank sentral untuk kembali memangkas suku bunga acuan itu.
“Masih ada ruang pemangkasan BI Rate jika inflasi dan rupiah stabil, apalagi jika Fed juga mulai menurunkan suku bunga,” kata David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, ketika dihubungi Theiconomics.com, Selasa (19/8).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat inflasi tahunan pada Juli lalu sebesar 2,37%, masih berada sasaran yang ditargetkan Bank Indonesia yaitu 2,5±1%.
Sementara nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, merujuk data Bank Indonesia, menguat ke sekitar 16.100 pada pekan lalu.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang juga menyampaikan ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga.
Menurut Anna, sapaannya, ada potensi bank sentral Amerika Sertikat, The Fed, menurunkan suku bunga acuannya pada September nanti. BI kemungkinan mendahului langkah bank sentral negeri Paman Sam itu.
“Ahead the curve as The Fed di September 25 potensi cut-nya tinggi,” ujar Anna.
Selain itu, tambah Anna, aliran masuk modal asing (inflow) ke pasar keuangan domestik yang berlanjut, juga akan menjadi katalis positif bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan.
Sebelumnya, dalam RDG Juli lalu, BI memutuskan memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga untuk menorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah dan pencapaian sasaran inflasi sesuai dengan dinamuka yang terjadi pada perekonomian global dan domestik,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada 16 Juli 2025.
Dengan demikian, selama 2025 ini, Bank Indonesia sudah tiga kali menurunkan suku bunga acuan. Selain pada Juli ini, sebelumnya juga sudah dilakukan pada Januari dan Mei lalu.
Namun, dalam konferensi pers itu, Perry mengingatkan perbankan untuk mengikuti langkah BI agar menurunkan suku bunga dana dan pinjaman.
Bank Indonesia mencatat, suku bunga deposito 1 bulan meningkat, dari 4,81% pada Mei 2025 menjadi 4,85% pada Juni 2025, seiring dengan persaingan bank untuk memperoleh pendanaan.
Suku bunga kredit perbankan juga masih tinggi, yaitu 9,16% pada Juni 2025, tidak jauh berbeda dari 9,18% pada Mei 2025.
Padahal, kata Perry, Bank Indonesia “sudah all out untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk juga mendorong kredit pembiayaan perbankan.”
“Kami (telah) turunkan suku bunga bahkan masih ada ruang penurunan suku bunga. Kami terus tambahi likuiditas dengan operasi moneter yang ekspansif menambah likuiditas. Kami stabilkan nilai tukar Rupiah. Lebih dari itu, kami menambah insentif likuiditas makro prudensial yang jumlahnya sangat besar,” ujarnya.
Perry mengatakan jumlah insentif likuiditas mencapai Rp376 triliun bagi bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.
“Jadi, Bank Indonesia, terus all out untuk mendorong pertumbuhan kredit dan bersama pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
“Pertanyaannya,” kata Perry, “mengapa suku bunga (perbankan) belum turun?” Kenapa pertumbuhan kredit (per Juni) turun?
Menurut Perry, dari sisi penawaran (supply), kelesuan pertumbuhan kredit bukan karena masalah likuiditas karena Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sangat tinggi yaitu 27%.
“Permasalahannya adalah bank lebih suka menaruh alat likuid itu pada surat-surat berharga dan terlalu berhati-hati dalam mendorong kredit, mengalokasikan alat likuid ke kredit,” ujarnya.
Hal tersebut, tambahnya, terbukti dari Rasio Alat Likuid per Kredit tidak turun, malah naik menjadi sekitar 27%. “Itu yang tentu saja harus kita cermati,” ujarnya.
Dengan demikian, jelasnya lagi, dari sisi penawaran preferensi bank yang menaruh alat likuid atau ekses likuiditasnya pada surat-surat berharga dibandingkan dengan mendorong kredit.
Selain itu, tambahnya, kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit terlihat dari standar pinjaman atau lending standard yang cenderung meningkat.
“Ini yang barangkali harus kita lihat dari sisi penawaran,” ujarnya.
Dari sisi permintaan, jelasnya, belum seluruh sektor tumbuh tinggi, seperti sektor ekonomi yang berorientasi ekspor serta sektor-sektor berorientasi pada ekonomi domestik, seperti perdagangan, konstruksi, transportasi, dan juga sektor-sektor jasa.
Karena itu, ia mengatakan, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu dilakukan bersama-sama, tidak hanya Bank Indonesia, tetapi juga Pemerintah dan dunia usaha.
“Kenapa dengan suku bunga BI kita turunkan, likuiditas terus kita tambahkan dan juga dalam strategi operasi moneter kita, juga dengan penambahan likuiditas kecenderungan suku bunga, tidak hanya BI Rate tetapi juga untuk tenor-tenor sampai dengan 12 bulan juga akan cenderung turun. Dan inilah yang kemudian juga akan mendorong perbankan akan lebih banyak mengalokasikan alat likuidnya bukan ke surat-surat berharga, tetapi juga ke kredit,” ujar Perry.
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), tambah Perry, diharapkan juga akan semakin turun, sehingga akan mendorong perbankan menyalurkan kredit kepada dunia usaha.
“Tentu saja kami menyadari, bank akan hati-hati dalam melakukan asesmen sektor-sektor mana, korporasi mana, yang layak dalam mendapatkan kredit. Tetapi himbauan kami, yuk, bersama-sama turunkan suku bunga, yuk kita sama-sama mendorong kredit dan mari kita bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi untuk negara kita dan juga untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya.