Freeport Indonesia Revisi RKAB 2026: Produksi Tembaga dan Emas Turun, Pendapatan Negara Tetap Naik
Tony Wenas, Presdir PTFI didampingi oleh Horst D.Garz, Executive Vice President Corporate Planning and Business Strategy; Katri Krisnati Vice President Corporate Communications PTFI; Venta Agustri Deputi Site Manager proyek smelter PTFI saat memantau proses commissioning conveyor dan ship unloader di Jetty/Dok. PTFI
PT Freeport Indonesia (PTFI) merevisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahun 2026 menyusul penurunan kapasitas produksi imbas gangguan operasional dan pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave. Meski produksi diproyeksikan turun signifikan, perusahaan memperkirakan pendapatan serta penerimaan negara justru tetap meningkat karena lonjakan harga komoditas global.
Manajemen PTFI menyampaikan bahwa dalam RKAB lama, produksi katoda tembaga tahun 2026 direncanakan mencapai 700 ribu ton. Namun dalam revisi yang telah disampaikan ke Kementerian ESDM pada pertengahan November lalu, angka tersebut turun menjadi 478 ribu ton, atau hanya 68 persen dari rencana awal.
Produksi emas juga ikut mengalami koreksi. Dari target 45 ton, PTFI kini memperkirakan produksi emas 2026 hanya 26 ton. Seluruh produksi emas tersebut direncanakan diserap PT Antam.
“Tidak ada rencana untuk mengekspor emas,” kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (24/11).
Meski produksi turun, pendapatan perusahaan pada 2026 relatif tidak terdampak karena proyeksi kenaikan harga tembaga dan emas yang cukup tajam.
Harga tembaga yang sebelumnya dipatok US$3,75 per pon dalam RKAB lama, kini diperkirakan bisa mencapai US$4,75 per pon. Sementara harga emas yang semula diproyeksikan US$1.900 per ons, diperkirakan terkerek naik hingga US$4.000 per ons.
Kombinasi penurunan produksi dan kenaikan harga membuat total penjualan PTFI di RKAB revisi 2026 tetap berada di kisaran US$8,5 miliar, hampir sama dengan target RKAB lama, meski volume produksi tembaga berkurang 32 persen dan emas 43 persen.
Sementara itu, penerimaan negara melalui pajak, dividen, serta PNBP (royalti dan komponen lainnya) justru naik. Dari target semula US$2,7 miliar, revisi RKAB menyatakan penerimaan negara tahun 2026 diperkirakan mencapai US$2,9 miliar.
PTFI memproyeksikan pemulihan signifikan mulai 2027 seiring pulihnya Tambang Grasberg Block Cave, yang direncanakan kembali beroperasi penuh mulai tahun tersebut. Produksi emas diproyeksikan meningkat menjadi 39 ton pada 2027, dan naik lagi menjadi 43 ton pada 2028–2029.
Selain itu, PTFI juga akan mengoperasikan tambang bawah tanah keempat, yaitu Kucing Liar, yang saat ini sedang dikembangkan dan diperkirakan mulai berproduksi pada 2029, mundur satu tahun dari rencana awal akibat insiden yang memengaruhi proses pembangunan.
Dengan produksi yang kembali membaik dan asumsi harga komoditas global tetap tinggi, PTFI memproyeksikan penerimaan negara pada 2028–2029 dapat melampaui US$6 miliar, setara hampir Rp100 triliun per tahun.
Gangguan Operasi pada 2025
Dalam paparannya, Tony menyampaikan meski produksi tembaga dan emas menurun signifikan sepanjang 2025 ini, kinerja keuangan perusahaan tertolong berkat lonjakan harga komoditas global.
Kinerja semester I 2025 ini tidak mencapai target karena terdampak oleh kebakaran yang terjadi di smelter Manyar. Smelter yang berada di Kawasan Java Integrated Industrial Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur itu mulai beroperasi pada Mei 2024. Namun, pada Oktober 2024, terjadi kebakaran di unit gas cleaning plant yang berfungsi mengolah SO₂ menjadi H₂SO₄.
“Kebakarannya memang tidak terlalu besar, tapi itu adalah salah satu hal yang pokok karena kalau kita tetap produksi, maka emisi SO₂ akan sangat mencemari, sehingga smelter tersebut harus berhenti beroperasi seluruhnya,” jelasnya.
Tony mengatakan pemulihan smelter baru selesai pada Mei 2025. Hal itu menyebabkan inventori konsentrat sangat tinggi di Timika sehingga terjadi slowdown operasi penambangan hingga ke tingkat produksi 40% dari kapasitas normal pada triwulan pertama 2025. Untuk mengatasi penumpukan inventori konsentrat tersebut, PTFI mengajukan izin ekspor konsentrat untuk jangka waktu hingga September 2025.
Namun, produksi kembali mengalami gangguan akibat kejadian luncuran material basah di Tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025. Insiden itu menyebabkan operasi seluruh tambang bawah tanah dihentikan selama hampir 50 hari untuk memprioritaskan pencarian tujuh pekerja kontraktor yang terperangkap.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025, PTFI menargetkan penjualan tembaga sebesar 770 ribu ton dan emas 67 ton. Namun akibat kebakaran di smelter Gresik dan luncuran material basah di Tambang Grasberg Block Cave, realisasi produksi diproyeksikan hanya mencapai 537 ribu ton tembaga (70% dari target) dan 33 ton emas (49%).
Meski kinerja operasional mengalami penurunan, kenaikan harga komoditas menopang kinerja keuangan PTFI. Tony menyampaikan harga tembaga yang dalam RKAB ditetapkan sebesar US$3,75 per pon, kini terealisasi di level US$4,46 per pon atau 119% dari rencana. Sementara harga emas melonjak drastis dari proyeksi US$1.900 per ons menjadi sekitar US$3.426 per ons, atau 180% dari asumsi semula.
Kenaikan tajam harga logam inilah yang menjaga kinerja keuangan perusahaan. Dari target pendapatan US$10,4 miliar dalam RKAB, realisasi penjualan tahun ini diperkirakan tetap mampu mencapai US$8,5 miliar, atau 82% dari rencana, meski produksi tembaga turun 30% dan emas merosot hingga 50%.
Tren serupa terjadi pada penerimaan negara. Dari target Rp 70 triliun atau setara US$3,7 miliar, kontribusi PTFI justru diproyeksikan meningkat menjadi US$4,1 miliar pada 2025. Kenaikan ini, selain ditopang harga komoditas, juga berasal dari pembayaran cicilan pajak penghasilan badan atas kinerja 2024.
Pemulihan Operasi
Tony menyampaikan, pada 28 Oktober 2025, setelah melalui diskusi dengan Kementerian ESDM yang melakukan pemeriksaan dan investigasi, PTFI memperoleh persetujuan untuk mengoperasikan kembali dua area tambang bawah tanah yang tidak terdampak luncuran material basah.
PTFI saat ini memiliki tiga tambang bawah yang sudah beroperasi. Selain GBC, dua lainnya adalah DMLZ dan Big Gossan. GBC yang terdampak langsung oleh insiden luncuran pada 8 September biasanya memproduksi sekitar 150 ribu ton bijih per hari. DMLZ berkapasitas sekitar 60 ribu ton per hari, sementara Big Gossan memproduksi hampir 10 ribu ton per hari.
Setelah penghentian operasi selama hampir 50 hari, PTFI kini telah memulai kembali produksi di DMLZ dan Big Gossan, dua tambang bawah tanah yang tidak terdampak dengan kapasitas sekitar 70 ribu ton bijih per hari, atau 30 persen dari kapasitas normal 210 ribu ton per hari.
Tony menjelaskan bahwa PTFI terus melakukan pemulihan terhadap Tambang GBC dengan target dapat mulai mengoperasikan kembali area ini pada tiga bulan pertama tahun 2026. Rencana pemulihan GBC berlangsung melalui beberapa tahapan. Pada November–Desember 2025, PTFI melakukan pengambilan dan pembersihan material dari area GBC. Pada saat longsoran terjadi, sejumlah infrastruktur tambang mengalami kerusakan sehingga diperlukan waktu untuk penyiapan dan perbaikan sebelum operasional dapat dimulai kembali. Sebagian besar area terdampak telah teridentifikasi, sementara area lain yang mengalami kerusakan minor masih diverifikasi secara bertahap.
Tony juga menyampaikan perkembangan pemulihan smelter Manyar di Gresik. Proses ramp-up smelter baru tersebut hingga Agustus 2024 telah mencapai 70 persen sebelum kebakaran pada Oktober 2024 yang menyebabkan penghentian operasi. Dengan produksi hulu yang saat ini baru mencapai sekitar 30 persen, seluruh konsentrat yang dihasilkan sementara dialirkan ke PT Smelting, smelter lama yang dioperasikan bersama mitra Jepang, sesuai perjanjian prioritas pengolahan dalam negeri.
Tony menegaskan bahwa smelter baru di Manyar masih belum dapat beroperasi kembali hingga akhir 2025 dan diperkirakan baru akan mulai produksi pada triwulan kedua tahun 2026.