Produksi Merosot, Kinerja Keuangan Freeport Indonesia Tertolong Kenaikan Harga 

0
56

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, memaparkan bahwa meski produksi tembaga dan emas menurun signifikan sepanjang 2025, kinerja keuangan perusahaan tertolong berkat lonjakan harga komoditas global.

Berbicara dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Senin (24/11), Tony menyampaikan bahwa kinerja semester I 2025 tidak mencapai target karena terdampak oleh kebakaran yang terjadi di smelter Manyar, di Kawasan Java Integrated Industrial Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Tony mengatakan setelah smelter Manyar mulai beroperasi pada Mei 2024, terjadi kebakaran pada Oktober di unit gas cleaning plant yang berfungsi mengolah SO₂ menjadi H₂SO₄.

“Kebakarannya memang tidak terlalu besar, tapi itu adalah salah satu hal yang pokok karena kalau kita tetap produksi, maka emisi SO₂ akan sangat mencemari, sehingga smelter tersebut harus berhenti beroperasi seluruhnya,” jelasnya.

Tony mengatakan pemulihan smelter yang baru selesai pada Mei 2025 itu menyebabkan inventori konsentrat sangat tinggi di Timika sehingga terjadi slowdown operasi penambangan hingga ke tingkat produksi 40% dari kapasitas normal pada triwulan pertama 2025. Untuk mengatasi penumpukan inventori konsentrat tersebut, PTFI mengajukan izin ekspor konsentrat untuk jangka waktu hingga September 2025.

Namun, pada September 2025, produksi kembali mengalami gangguan akibat kejadian luncuran material basah di Tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025. Insiden itu menyebabkan operasi seluruh tambang bawah tanah dihentikan selama hampir 50 hari untuk memprioritaskan pencarian tujuh pekerja kontraktor yang terperangkap.

Baca Juga :   Tinjau Proyek Smelter Freeport Indonesia, Presiden Jokowi Minta Pembangunan Kelar Mei 2024

Tony memaparkan bahwa dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025, PTFI menargetkan penjualan tembaga sebesar 770 ribu ton dan emas 67 ton. Namun akibat kebakaran di smelter Gresik dan luncuran material basah di Tambang Grasberg Block Cave, realisasi produksi diproyeksikan hanya mencapai 537 ribu ton tembaga (70% dari target) dan 33 ton emas (49%).

Meski kinerja operasional mengalami penurunan, kenaikan harga komoditas menopang kinerja keuangan PTFI. Tony menyampaikan harga tembaga yang dalam RKAB ditetapkan sebesar US$3,75 per pon, kini terealisasi di level US$4,46 per pon atau 119% dari rencana. Sementara harga emas melonjak drastis dari proyeksi US$1.900 per ons menjadi sekitar US$3.426 per ons, atau 180% dari asumsi semula.

Kenaikan tajam harga logam inilah yang menjaga kinerja keuangan perusahaan. Dari target pendapatan US$10,4 miliar dalam RKAB, realisasi penjualan tahun ini diperkirakan tetap mampu mencapai US$8,5 miliar, atau 82% dari rencana, meski produksi tembaga turun 30% dan emas merosot hingga 50%.

Tren serupa terjadi pada penerimaan negara. Dari target Rp 70 triliun atau setara US$3,7 miliar, kontribusi PTFI justru diproyeksikan meningkat menjadi US$4,1 miliar pada 2025. Kenaikan ini, selain ditopang harga komoditas, juga berasal dari pembayaran cicilan pajak penghasilan badan atas kinerja 2024.

Baca Juga :   Tony Wenas: Smelter Freeport di KEK JIIPE Gresik Jadi yang Terbesar di Dunia

Pemulihan Operasi

Tony menyampaikan, pada 28 Oktober 2025, setelah melalui diskusi dengan Kementerian ESDM yang melakukan pemeriksaan dan investigasi, PTFI memperoleh persetujuan untuk mengoperasikan kembali dua area tambang bawah tanah yang tidak terdampak luncuran material basah.

PTFI memiliki tiga tambang bawah. Selain GBC, dua lainnya adalah DMLZ dan Big Gossan. GBC yang terdampak langsung oleh insiden luncuran pada 8 September biasanya memproduksi sekitar 150 ribu ton bijih per hari. DMLZ berkapasitas sekitar 60 ribu ton per hari, sementara Big Gossan memproduksi hampir 10 ribu ton per hari. 

Setelah penghentian operasi selama hampir 50 hari, PTFI kini telah memulai kembali produksi di DMLZ dan Big Gossan, dua tambang bawah tanah yang tidak terdampak dengan kapasitas sekitar 70 ribu ton bijih per hari, atau 30 persen dari kapasitas normal 210 ribu ton per hari.

Tony menjelaskan bahwa PTFI terus melakukan pemulihan terhadap Tambang GBC dengan target dapat mulai mengoperasikan kembali area ini pada tiga bulan pertama tahun 2026. Rencana pemulihan GBC berlangsung melalui beberapa tahapan. Pada November–Desember 2025, PTFI melakukan pengambilan dan pembersihan material dari area GBC. Pada saat longsoran terjadi, sejumlah infrastruktur tambang mengalami kerusakan sehingga diperlukan waktu untuk penyiapan dan perbaikan sebelum operasional dapat dimulai kembali. Sebagian besar area terdampak telah teridentifikasi, sementara area lain yang mengalami kerusakan minor masih diverifikasi secara bertahap.

Baca Juga :   Diprotes Banyak Musisi, Pestapora 2025 Putuskan Kontrak dengan Freeport Indonesia

Tony juga menyampaikan perkembangan pemulihan smelter Manyar di Gresik. Proses ramp-up smelter baru tersebut hingga Agustus 2024 telah mencapai 70 persen sebelum kebakaran pada Oktober 2024 yang menyebabkan penghentian operasi. Dengan produksi hulu yang saat ini baru mencapai sekitar 30 persen, seluruh konsentrat yang dihasilkan sementara dialirkan ke PT Smelting, smelter lama yang dioperasikan bersama mitra Jepang, sesuai perjanjian prioritas pengolahan dalam negeri.

Tony menegaskan bahwa smelter baru di Manyar masih belum dapat beroperasi kembali hingga akhir 2025 dan diperkirakan baru akan mulai produksi pada triwulan kedua tahun 2026.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics