Laba Bersih BRI Turun 8,6 Persen, Tapi Fundamental Tetap Kuat
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi memaparkan kinerja BRI periode Januari-September 2025 pada Kamis, 30 Oktober 2025.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat laba bersih sebesar Rp41,2 triliun hingga akhir triwulan III 2025, turun sekitar 8,6 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp45,06 triliun. Meski demikian, manajemen menegaskan fundamental bisnis perseroan tetap solid, ditopang pertumbuhan aset, kredit, dan dana murah (CASA).
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa berbagai inisiatif strategis yang dijalankan telah menjaga kinerja keuangan perusahaan tetap berada pada jalur positif.
“Kita ingin tidak hanya positif, tapi juga berkelanjutan. Sustainability-nya kita bayangkan dan pikirkan harus terus berlanjut di masa yang akan datang,” ujar Hery dalam paparan kinerja keuangan BRI, Kamis (30/10).
Hery menambahkan, strategi pengimbangan dana murah berhasil mendorong efisiensi biaya dana dan menopang fundamental bisnis. “Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap pencapaian laba perseroan. BRI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp41,2 triliun hingga akhir triwulan ketiga 2025,” katanya.
Secara konsolidasian, total aset BRI tumbuh 8,2 persen year-on-year menjadi Rp2.123,4 triliun. Sementara penyaluran kredit naik 6,3 persen menjadi Rp1.438,1 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 8,2 persen menjadi Rp1.474,8 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kenaikan dana murah atau CASA.
Direktur Finance & Strategy, Viviana Dyah Ayu Retno K., menyebutkan bahwa kondisi permodalan BRI tetap kuat, tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,4 persen, jauh di atas ketentuan regulator.
“Kondisi ini menunjukkan kemampuan BRI menyerap risiko sekaligus menyediakan ruang untuk ekspansi bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Viviana menambahkan, likuiditas perseroan juga terjaga baik dengan loan to deposit ratio (LDR) di level 86,5 persen, serta liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 141,3 persen. Komposisi CASA kini mencapai 67,6 persen, tumbuh 14,1 persen secara tahunan, didorong oleh optimalisasi kanal digital seperti BRImo dan Qlola by BRI.
Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko, Mucharom, menegaskan kualitas aset BRI tetap terkendali dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 3,08 persen, disertai NPL coverage yang tinggi mencapai 183,1 persen. “Hal ini mencerminkan tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian yang tinggi dalam mengantisipasi potensi risiko ke depan,” ujarnya.
Dari sisi bisnis mikro, Direktur Micro, Akhmad Purwakajaya, menyampaikan bahwa holding ultramikro BRI Group (BRI, Pegadaian, dan PNM) telah menjangkau 34,5 juta debitur aktif hingga akhir September 2025, dengan total simpanan mikro lebih dari 185 juta rekening. Selain itu, jumlah agen BRILink tumbuh 17,8 persen menjadi lebih dari 1,2 juta agen yang tersebar di 66.000 desa di seluruh Indonesia.
Wakil Direktur Utama BRI, Agus Noorsanto, menambahkan bahwa di samping pembiayaan dan jaringan agen BRILink, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat dan UMKM. Antara lain melalui program Desa Brilian, hingga akhir September 2025 BRI telah membina lebih dari 4.900 desa binaan di seluruh Indonesia. Melalui Klusterku Hidupku, BRI juga telah mengembangkan 41.715 klaster usaha sebagai bagian dari penguatan sektor produktif berbasis komunitas.
Selain itu, BRI menghadirkan platform digital Link UMKM, yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, mitra bisnis, serta akses layanan keuangan. Lebih dari 13,6 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan platform ini untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas usaha, dan mempercepat proses negosiasi bisnis.
Untuk mendukung pengembangan kapasitas UMKM, BRI juga telah membina 54 Rumah BUMN dan melaksanakan lebih dari 17.000 pelatihan di seluruh Indonesia.
Agus menambahkan, BRI Group kini memiliki 10 perusahaan anak, antara lain Pegadaian, PNM, BRI Life, BRI Insurance, Bank Raya, BRI Finance, BRI Danareksa Sekuritas, BRI Manajemen Investasi, BRI Ventures, dan BRI Global Financial Services.
“Kinerja seluruh perusahaan anak BRI terus menunjukkan tren positif. Hingga triwulan III 2025, total aset perusahaan anak tumbuh 15 persen secara tahunan menjadi Rp244,5 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 27,6 persen menjadi Rp8,2 triliun,” ungkap Agus.
Kontribusi perusahaan anak terhadap BRI juga meningkat, dengan porsi aset sebesar 11,5 persen dari total aset konsolidasi, dan kontribusi laba sebesar 19,9 persen dari total laba konsolidasi.
“Sinergi antarunit bisnis dalam grup menjadi elemen penting yang memperkuat BRI sebagai satu kesatuan entitas untuk memberikan layanan keuangan secara menyeluruh dan mendorong kinerja berkelanjutan,” tutup Agus.