Penyaluran SAL Rp 200 M Dinilai Belum Mampu Dorong Ekonomi di 2025, Faktor Ini sebagai Penyebabnya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Ketidakselarasan komunikasi antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi salah satu faktor penyaluran saldo anggaran lebih (SAL) senilai Rp 200 triliun belum mampu mendorong perekonomian Indonesia hingga akhir 2025.
Seharusnya, kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, penyaluran SAL tersebut dapat meningkatkan uang primer (MO), dan mendorong penyaluran kredit perbankan.
Meski sempat menyentuh 18,6% pada September 2025, kata Purbaya, pertumbuhan uang primer kembali menurun. Apabila SAL disalurkan sesuai dengan instruksi yang diberikan, hal itu dapat mendorong pertumbuhan kredit perbankan mencapai 2 digit atau berada di atas 10%.
“Minggu ke-2 bulan September mereka (bank yang ditempatkan SAL) mulai serap. Minggu ke-3, ke-4, minggu ke-5. Masuk Oktober, November, Desember, hingga satu titik pertumbuhan base (MO) turun ke-0 lagi,” kata Purbaya dalam acara Semangat Awal Tahun di Jakarta, Rabu (14/1).
Meski demikian, kata Purbaya, pihaknya sudah mencari solusi bersama bank sentral untuk menyusun strategi yang tepat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Perbaikan itu sudah mulai terlihat dari adanya respons positif dari investor terhadap pasar modal.
Masih kata Purbaya, pihaknya optimistis langkah yang sudah dilakukan dapat mendorong, dan memperbaiki kondisi ekonomi di Indonesia.
“Stock market naik hingga 9.000, walau turun lagi. Tapi saya yakin akan naik lebih tinggi dari itu. Ketika ekonomi tumbuh 6% atau lebih dari 6%, keadaan akan berbeda. Demand kencang, akan banyak kompetisi,” ujar Purbaya.