Purbaya Klaim Suntikan Dana Rp200 Triliun Berhasil Pulihkan Optimisme, Kredit akan Tumbuh 10%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kebijakan penempatan dana sebesar Rp200 triliun di perbankan yang dilakukan sejak 12 September lalu, telah memberikan dampak signifikan terhadap pemulihan ekonomi.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (27/11), ia menjelaskan bahwa kondisi likuiditas sebelum kebijakan tersebut “sangat kering”, ditandai dengan pertumbuhan uang beredar yang mendekati 0%. Pelemahan likuiditas itu disebut berkontribusi terhadap perlambatan ekonomi dalam beberapa bulan sebelumnya.
Menurut Purbaya, setelah Rp200 triliun dipindahkan dari Bank Indonesia ke sistem perbankan, tanpa mengubah postur APBN, pertumbuhan uang beredar melonjak hingga di atas 13% pada September. Meski turun lagi ke 7,8% pada Oktober. Pemerintah, katanya, kembali menambah Rp76 triliun agar likuiditas tetap terjaga.
Purbaya mengklaim, dampak pertama dari kebijakan ini adalah turunnya suku bunga, baik suku bunga deposito maupun suku bunga pinjaman. “Penurunan bunga inilah yang menstimulasi perekonomian” ujarnya.
Selain suku bunga deposito dan kredit, suku bunga pasar uang antarbank juga turun sangat signifikan.
“Ketika likuiditas masuk ke sistem dan bank memiliki banyak dana, mereka akan menyalurkannya terlebih dahulu ke instrumen yang paling mudah, yaitu pasar uang antarbank. Setelah itu, mereka akan mencari instrumen lain hingga akhirnya menyalurkan kredit. Kredit pun sudah mulai tumbuh, dan saya perkirakan pada akhir tahun pertumbuhannya dapat mendekati 10% karena full impact dari kebijakan seperti ini bisa 2-3 bulan di perekonomian baru kelihatan,” ujarnya.
Namun, klaim Purbaya soal suku bunga deposito dan kredit ini berbeda dengan data Bank Indonesia. Hingga Oktober 2025 suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 56 basis poin (bps) dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,25% pada Oktober 2025. Penurunan suku bunga kredit perbankan bahkan berjalan lebih lambat, yaitu sebesar 20 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 9,00% pada Oktober 2025.
Masih menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 tercatat 7,36% (yoy), melambat dari 7,70% (yoy) bulan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi karena permintaan kredit yang belum kuat, dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi (wait and see), optimalisasi pembiayaan internal korporasi, dan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi.
Fasilitas kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada Oktober 2025 masih besar, yakni Rp2.450,7 triliun, atau 22,97% dari plafon kredit tersedia.
Purbaya mengakui tingginya undisbursed loan mencerminkan sikap pelaku usaha yang masih menahan pencairan kredit di tengah perlambatan ekonomi. Namun dengan membaiknya permintaan domestik dan meningkatnya keyakinan konsumen, ia optimistis serapan kredit akan meningkat.
Menurutnya, sejumlah indikator perekonomian memperkuat optimisme itu. Indikator konsumsi mulai menunjukkan perbaikan. Penjualan ritel melanjutkan tren positif, belanja masyarakat menguat terutama pada barang tahan lama, dan penjualan sepeda motor tumbuh 8,4% secara tahunan. Penjualan mobil yang masih minus 4,4% menunjukkan tren pemulihan. Dari sisi produksi, PMI Manufaktur berada pada level ekspansif 51,2 pada Oktober, menandakan peningkatan output dan permintaan baru.
Perbaikan ini turut mengerek Indeks Ekspektasi Ekonomi ke 133,4 serta Indeks Keyakinan Konsumen ke 121,2. “Optimisme masyarakat berhasil kami balik. Ini memicu momentum baru bagi pertumbuhan,” kata Purbaya.
Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal IV dapat mencapai 5,6%–5,7%, sehingga secara keseluruhan tahun ini dapat menyentuh 5,2%. Peningkatan keyakinan masyarakat juga dinilai akan mengurangi tensi sosial dan membuat pemerintah serta DPR dapat fokus pada percepatan program ekonomi.
“Selama kebijakan dilakukan konsisten, pasar saham akan semakin kuat dan investor jangka panjang akan semakin masuk. Kuncinya adalah menjaga momentum perbaikan ini,” ujarnya.