Tim Investigasi BGN Temukan Senyawa Nitrit Penyebab Keracunan MBG di Bandung Barat

0
67
Reporter: Rommy Yudhistira

Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan senyawa nitrit sebagai pemicu gejala keracunan terhadap 1.315 siswa/siswi di Bandung Barat. Gejala terjadi setelah para siswa menyantap hidangan makan bergizi gratis (MBG) yang disiapkan 3 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbeda.

Ketua Tim Investigasi Independen BGN Karimah Muhammad mengatakan, investigasi dilakukan secara langsung dengan menemui korban, dan dokter yang menangani korban keracunan di Puskesmas Cipongkor, dan RSUD Cililin.

Tim Investigasi, kata Karimah, mempelajari pola gejala utama korban, mengecek obat-obatan yang diberikan puskesmas dan RSUD, dan mempelajari hasil uji mikrobiologi, dan toksikologi dari laboratorium kesehatan daerah Jawa Barat.

“Ditemukan kadar nitrit yang sangat tinggi di buah melon dan lotek dari sampel sisa sekolah,” kata Karimah dalam keterangan resminya pada Jumat (3/10).

Karimah melanjutkan, pada masing-masing sampel yang diuji, terdapat 3,91 dan 3,54 miligram (mg) per liter nitrit. Padahal, apabila merujuk US Environmental Protection Agency (EPA) kadar maksimum nitrit yang boleh dikonsumsi dalam minuman adalah 1 mg/l. Sedangkan otoritas kesehatan Kanada menetapkan 3 mg/l.

Baca Juga :   Anomali Konstitusional APBN 2026: Distorsi Alokasi Anggaran Pendidikan dalam Program Lintas Sektor

“Jadi kalau merujuk standar EPA, maka kadar nitrit dalam sampel sisa makanan di sekolah hampir 4 kali lipat dari batas maksimum,” tambah Karimah.

Secara alamiah, kata Karimah, buah dan sayur memiliki kandungan nitrit. Kadarnya pun bisa meningkat yang disebabkan dari bakteri.

“Pola gejala yang ditunjukkan para korban sejalan dengan gejala keracunan nitrit, di mana yang mendominasi adalah efek di saluran pencernaan bagian atas, misal: mual, muntah atau nyeri lambung, sebanyak 36%. Bukan di saluran pencernaan bagian bawah, misal diare,” ujar Karimah.

Selain itu, kata Karimah, korban yang mengalami diare hanya sebanyak 3%. Tolok ukur diare sering kali dijadikan acuan penyebab keracunan. Sedangkan keracunan nitrit tidak memicu diare, karena sebagai zat racun dalam nitrit perlu didetoksifikasi di hati terlebih dahulu.

Dari pemeriksaan korban, kata Karimah, ditemukan gejala pusing atau kepala terasa ringan, yang biasanya terjadi karena pelebaran pembuluh darah, yang juga menjadi ciri keracunan nitrat. Gejala itu didukung dari persentase sebanyak 29%, dan berada di peringkat kedua setelah gejala di saluran pencernaan bagian atas.

Baca Juga :   BGN Proteksi Pekerja dengan BPJS Ketenagakerjaan

Gejala lemas dan sesak napas yang dikeluhkan sebagian korban juga menunjukkan keracunan nitrit. Sebab, nitrit bisa menyebabkan methemoglobinemia, di mana kemampuan hemoglobin di dalam darah untuk membawa oksigen menjadi berkurang, sehingga sel-sel tubuh merasa lemas, dan di paru-paru terasa sesak,” katanya.

Masih dari hasil investigasi, kata Karimah, pihaknya tidak menemukan bakteri penyebab keracunan makanan, seperti Escherichia coliStaphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Tidak hanya itu, Tim Investigasi pun tidak menemukan racun sianida, arsen, logam berat atau pestisida dalam uji toksikologi.

“Mereka yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang kuat atau detoksifikasi yang prima bisa dengan cepat atau lebih mudah mengeluarkan nitrit dari dalam tubuh, setelah mengalami metabolisme,” tuturnya.

Karimah pun menepis adanya informasi yang menyebutkan korban keracunan mengalami kejang-kejang. Menurut para dokter di puskesmas dan RSUD, Karimah menambahkan, yang dilihat orang awam sebagai kejang, adalah kram di jari tangan karena merasakan nyeri lambung.

“Hal itu dibuktikan dengan tidak ada satupun obat antikejang yang dikeluarkan puskesmas dan RSUD, misal: diazepam, carbamazepine, Gabapentin atau Pregabalin,” ujarnya.

Leave a reply

Iconomics