Digital Edge Investasi Modal Senilai US$ 4,5 M Bangun CGK Campus di Bekasi
Digital Edge menempatkan modal senilai US$ 4,5 miliar untuk membangun CGK Campus, pusat data hyperscale berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan kapasitas 500 MW di GIIC Industrial Estate, Bekasi.
CEO Digital Edge John Freeman mengatakan, pembangunan gedung dilakukan secara bertahap. Gedung pertama ditargetkan selesai pada Kuartal IV/2026, sedangkan gedung kedua selesai pada Kuartal I/2027, lalu gedung ke-3 rampung pada Kuartal II/2027.
Gedung itu, kata John, berada 15 km dari kluster data center utama di kawasan, dan sekitar 40 km dari fasilitas data center EDGE 1 dan EDGE 2. Lokasi kampus menawarkan konektivitas latensi rendah ke pusat bisnis Jakarta.
“CGK Campus adalah tonggak penting dalam strategi kami di Asia Pasifik dan menjadi investasi infrastruktur terbesar yang pernah kami lakukan,” kata John dalam keterangan resminya pada Rabu (28/1).
CGK Campus, kata John, dirancang dengan standar efisiensi dan keberlanjutan dengan target annualized PUE 1,25. Kemudian penerapan teknologi direct-to-chip liquid cooling untuk mendukung beban kerja AI, hingga penggunaan sistem daur ulang air, dan integrasi energi terbarukan.
Fasilitas itu, lanjut John, menerapkan arsitektur carrier-neutral untuk memastikan fleksibilitas konektivitas, dan akses ke ekosistem jaringan yang lebih luas.
“Langkah ini akan memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi lonjakan permintaan layanan digital, cloud, dan AI di tahun‑tahun mendatang,” ujar John.
Sementara itu, CEO Digital Edge Indonesia Stephanus Oscar menambahkan, kebutuhan infrastruktur digital nasional telah tumbuh lebih cepat dari ketersediaannya. Karena itu, CGK Campus hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.
“Dengan menghadirkan kapasitas 500 MW yang berkelanjutan, siap untuk deployment hyperscale dan AI dalam skala besar,” kata Stephanus.
CEO Indonet Andy Rigoli mengatakan, CGK Campus akan didukung dengan jaringan fiber dan infrastruktur Indonet. Indonet merupakan anak perusahaan Digital Edge di Indonesia.
Seluruh rute baru ke GIIC, kata Andy, dibangun di bawah tanah untuk meningkatkan keandalan, dan ketahanan jaringan.
“Didukung perangkat berstandar tinggi dan pemantauan canggih, integrasi ini memastikan solusi carrier‑neutral yang siap penuhi kebutuhan hyperscale dan enterprise,” ujar Andy.