Merck Catat Penurunan Nilai Aset Pabrik Rp 87 M di September 2026
PT Merck Tbk mencatat penurunan nilai aset pabrik sebesar Rp 87 miliar pada 30 September 2026. Penurunan nilai aset dipengaruhi perubahan material dalam prospek volume produksi, utilitas kapasitas, dan arus kas masa depan menjelang berakhirnya kontrak dengan Procter & Gamble (P&G) pada 31 Desember 2027.
Direktur Merck Bambang Nurcahyo menjelaskan, penyesuaian nilai aset tersebut juga telah disampaikan dalam laporan tahunan 2024 dan 2025. Pihaknya juga mempertimbangkan hasil penilaian dari penilai independen KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan yang menetapkan nilai pasar aset sebesar Rp 93 miliar per 31 Agustus 2026.
Sesuai dengan panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK yang berlaku, kata Bambang, Merck membukukan neto aset setelah penurunan nilai menjadi Rp 75 miliar. Pencatatan dilakukan pada September 2026, agar terlihat dalam pembukuan Kuartal III/2026. Tujuannya agar publik mendapatkan informasi secara transparan, dan lebih cepat.
“Transparansi adalah prinsip yang kami pegang. Karena itu, kami mengevaluasi nilai aset pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai dengan hasil evaluasi serta ketentuan akuntansi yang berlaku,” kata Bambang dalam acara Public Expose di pabrik Merck, Jakarta, Kamis (8/10).
Dari sisi kinerja, kata Bambang, Merck mencatat peningkatan laba bersih sekitar 396% secara tahunan (yoy) pada Semester I/2026. Kemudian, volume produk P&G menurun 0,7% karena Merck sudah tidak lagi memasok produk liquid. Juga disebabkan harga pasokan yang meningkat 98%, seiring dengan penyesuaian harga sesuai manufacturing supply agreement (MSA) terbaru.
Untuk kesehatan keuangan, kata Bambang, rasio utang terhadap ekuitas berada di kisaran 0,27 kali, di mana hal itu menunjukkan ekuitas perseroan lebih besar dibandingkan utang. Selanjutnya rasio lancar sebesar 5, mencerminkan likuiditas yang baik. Sementara, pengembalian aset sebesar 9,10% dan pengembalian ekuitas 11,59%.
“Langkah ini mencerminkan komitmen kami terhadap tata kelola yang baik dan memperkuat fondasi Perseroan untuk bertumbuh ke depan,” ujar Bambang.
Sementara itu, Direktur Merck Arryo Aritrixso Wachjuwidajat mengatakan, Merck berkomitmen untuk memperkuat produksi dan pemasaran obat-obat resep. Sekaligus mengoptimalkan kapabilitas pabrik di Pasar Rebo untuk mendukung kebutuhan pasar domestik, dan pasar Asia.
Untuk selanjutnya, kata Arryo, pihaknya fokus pada bisnis obat resep, mengimpor produk jadi berbasis bioteknologi, dan memasarkan produk-produk tersebut di Indonesia. Adapun sebanyak 60% penjualan healthcare berasal dari produk bioteknologi impor, dan 30% dari produksi sendiri.
Merck, tambah Arryo, berencana melakukan ekspansi pasar ke Filipina pada tahun ini. Kemudian menjangkau Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand pada 2027-2029.
“Dengan fokus pada kebutuhan pasien dan pengembangan portofolio, kami siap membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Arryo.