Investor Sambut Positif Perombakan Jajaran Direksi, Saham BNI Ditutup Menguat 2,39%

0
127
Reporter: Petrus Dabu

Investor saham menyambut positif perombakan jajaran direksi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Pada perdagangan saham hari ini, Kamis (3/9), harga saham emiten dengan kode saham BBNI ini ditutup menguat 2,39% menjadi Rp5.350 per saham.

Padahal pada saat yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun sebesar 0,59% ke level 5.280,81. Demikian juga harga saham emiten bank plat merah lainnya yang masuk kategori bank BUKU IV yaitu BRI dan Mandiri hari ini masing-masing turun. BRI turun sebesar 2,19% menjadi Rp3.850 dan Mandiri turun sebesar 1,65% ke level Rp5.975. Indeks sektor keuangan sendiri hari ini juga melemah sebesar 0,76%.

Sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BNI pada Rabu (2/9) kemarin memutuskan merombak jajaran direksi BNI. Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas BNI menunjuk Royke Tumilaar  sebagai direktur utama menggantikan Herry Sidhartha. Royke sendiri sebelumnya merupakan direktur utama Bank Mandiri.

Pemerintah  juga menggeser beberapa figur senior Bank Mandiri ke Bank BNI yaitu Silvano Rumantir sebagai Direktur Corporate Banking dan David Pirzada sebagai Direktur Manajemen Resiko. Kemudian Muhammad Iqbal  ditunjuk menjadi Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Novita Widya Anggraini sebagai Direktur Keuangan.

Baca Juga :   Ditanya Komisi VI soal Wacana Privatisasi BUMN, Ini Jawaban Erick Thohir

Seperti kondisi pasar saham secara keseluruhan, meski sudah mulai menunjukkan pemulihan, harga saham BNI sendiri saat ini masih jauh dari level tertingginya dalam setahun ini yang sempat menyentuh level sekitar Rp8.000 per saham. Sejak awal tahun (ytd) saham BNI masih terkoreksi sebesar 31,19%.

Pada semester kedua 2020 ini, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp4,46 triliun, turun 41,63% dibanding Rp7,63 triliun pada semester pertama tahun 2019 lalu.

Sebenarnya dari sisi top line, kinerja BNI tak begitu mengalami penurunan drastis. Pendapatan bunga dan syariah neto tercatat masih tumbuh sebesar 1,04% menjadi Rp17,8 triliun dari Rp17,61 triliun pada semester pertama 2019 lalu.

Hanya saja pendapatan premi dan hasil investasi mengalami penurunan sebesar 27,52% menjadi Rp0,65 triliun dari sebelumnya pada semester pertama 2019 sebesar Rp0,89 triliun.

Demikian juga pendapatan operasional lainnya turun sebesar 3,54% menjadi Rp6,16 triliun dari sebelumnya pada semester pertama 2019 sebesar Rp6,39 triliun.

Dus, total pendapatan BNI pada semester pertama 2020 sebesar Rp24,61 triliun, turun sekitar 1,16% dari sebelumnya pada semester pertama 2019 lalu sebesar Rp24,9 triliun.

Baca Juga :   BNI yang Berusia 76 Tahun Menggali Terus Potensi Pasar Luar Negeri

Meski di sisi top line penurunan tidak begitu dalam, tetapi pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai yang meningkat 88,16% menjadi Rp7,47 triliun dari sebelumnya Rp3,97 triliun, menggerus laba BNI.

Hingga akhir semester pertama 2020, penyaluran kredit BNI tumbuh sebesar 3,59% dengan total outstanding kredit mencapai Rp576,78 triliun. Jumlah simpanan nasabah juga tumbuh sebesar 8,45% menjadi Rp631,75 triliun dari Rp582,54 triliun pada akhir semester pertama 2019 lalu.

Berdasarkan posisi ekuitas per akhir Juni 2020, harga saham BNI sendiri masih terbilang murah. Nilai buku (book value) saham BNI sendiri sebesar Rp6.025 per saham, sehingga Price Book Value (PBV) berdasaran harga saham terakhir adalah 0,85 kali alias masih murah.

Leave a reply

Iconomics