Indonesia–AS Targetkan Penandatanganan Perjanjian Dagang Resiprokal pada Akhir Januari 2026
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dwi Suryo Indroyono Soesilo menyampaikan keterangan pers daring dari dari Washington, Selasa (22/7) waktu Indonesia. Dalam konferensi pers ini, Airlangga menyampaikan perkembangan pembahasan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menargetkan penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilakukan pada akhir Januari 2026. Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan negosiasi bilateral terkait dengan kebijakan tarif dagang dengan Amerika Serikat (AS) pada 22 Juli 2025 lalu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, target tersebut mengemuka setelah pertemuan delegasi Indonesia dengan United States Trade Representative (USTR) yang diwakili Ambassador Jamieson Greer di Washington DC. Pertemuan itu dilaksanakan sebagai tindak lanjut penugasan langsung Presiden Prabowo untuk mempercepat penyelesaian dokumen ART.
“Pertemuan berjalan dengan baik. Isu-isu utama dan isu teknis dibicarakan dalam pertemuan kali ini. Saya dan Ambassador Greer mengapresiasi perkembangan perundingan yang telah menyepakati isu-isu krusial dalam teks perjanjian. Kata-kata yang dikedepankan adalah menjaga kepentingan bersama kedua belah pihak dan kita sampaikan isu-isu yang menjadi kepentingan Indonesia. Demikian pula Amerika Serikat menyampaikan isu-isu yang menjadi kepentingan utama dari Amerika Serikat,”ujar Airlangga dalam konferensi pers daring dari Washington, Selasa (22/7) waktu Indonesia.
Airlangga menjelaskan, seluruh isu substansi yang telah diatur di dalam dokumen ART sudah dapat disepakati kedua belah pihak, baik isu-isu utama maupun isu teknis yang akan diselesaikan bahasanya dalam legal drafting dan proses teknis selanjutnya. Kedua negara juga telah menyepakati kerangka waktu penyelesaian, di mana tim teknis Indonesia dan Amerika Serikat akan kembali melakukan pertemuan pada pekan kedua Januari 2026.
“Pada minggu kedua bulan Januari 2026 tim teknis Indonesia dan Amerika Serikat akan melanjutkan kembali pertemuan teknis untuk legal drafting serta clean up dokumen yang ditargetkan selesai dalam satu minggu. Tetapi waktunya antara tanggal 12 sampai dengan tanggal 19 setelah seluruh proses teknis diselesaikan, maka diharapkan sebelum akhir bulan Januari ini akan disiapkan dokumen untuk dapat ditandatangani secara resmi oleh Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Amerika Serikat Pak Donald Trump,” jelasnya.
Menurut Airlangga, pihak Amerika Serikat saat ini tengah mengatur waktu yang tepat untuk pertemuan kedua kepala negara tersebut. Penandatanganan ART nantinya akan menjadi tonggak penting dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Perjanjian ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan 22 Juli 2025, di mana Amerika Serikat menurunkan tarif impor terhadap produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Selain itu, Indonesia juga memperoleh pengecualian tarif untuk sejumlah produk unggulan ekspor seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan komoditas lainnya.
Di sisi lain, Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk membuka akses pasar bagi Amerika Serikat serta mengatasi berbagai hambatan non-tarif. Pemerintah terus mendorong deregulasi, termasuk melalui pembentukan Satuan Tugas Debottlenecking guna menyelesaikan hambatan yang dihadapi dunia usaha.
“Kita harap bahwa proses teknis selanjutnya dapat selesai sesuai target waktu sehingga pada akhir Januari 2026 bisa dilakukan penandatanganan dokumen ART oleh Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Presiden Trump. Dengan demikian manfaat dari perjanjian ini membuka akses pasar dua negara dapat segera mendorong perekonomian di Indonesia,” ujar Airlangga.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dwi Suryo Indroyono Soesilo, menambahkan bahwa Kedutaan Besar RI di Washington DC telah mulai melakukan persiapan menyambut rencana kunjungan Presiden Prabowo ke Amerika Serikat.
“Kami dari KBRI Washington menunggu instruksi dari Jakarta untuk persiapan kunjungan Bapak Presiden ke Washington DC dalam rangka acara penandatanganan antara Presiden Trump dan Presiden Prabowo Subianto berkaitan dengan reciprocal agreement ini,” ujarnya.