Cerita Sunarso Melakukan Transformasi di BRI

0
389

Sunarso, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mengatakan dari 8 risiko di perbankan,  risiko yang paling membuat Chief Executive Officer (CEO) tidak bisa tidur adalah strategic risk. Obat untuk mengatasinya, menurut dia hanya satu yaitu transformasi.

Berbicara soal transformasi, bukan hal yang mudah, kata Sunarso. “Transformasi itu berisiko, maka transformasi harus sukses,” ujarnya dalam acara “Ngopi BUMN”, Kamis (26/10).

Menurut Sunarso, ada empat syarat agar transformasi bisa sukses. Pertama, harus jelas objek yang ditransformasi. Kedua, harus ada pemimpin atau leader yang menggerakan. Ketiga, harus di by in oleh seluruh anggota atau karyawan.

Keempat, transformasi itu tidak tergantung pada simtom, tetapi harus rely on sistem. “Jadi, harus menjadi mekanisme sistem. Oleh karena itu, transformasi tidak boleh diomong saja. Harus ditulis dalam bentuk blueprint,” ujar Sunarso.

Untuk menyusun blueprint transformasi, menurut Sunarso, ada 4 tahap yang harus dilakukan.

Pertama-tama adalah (1) mendiagnosa perusahaan. Setelah mendiagnosa kemudian (2) tetapkan mimpi yang disebut aspirasi atau visi. Selanjutnya, (3) mendesaian peta jalan atau roadmap menuju mimpi atau visi.

Baca Juga :   BRI Paparkan Kontribusinya pada Pemulihan Ekonomi Nasional

Dalam mendesain peta jalan mencapai mimpi atau visi ini, menurut Sunarso, yang harus didesain pertama adalah struktur organisasi. Kemudian, mekanisme berjalannya strukur organisasi atau business process. Setelah mendesain business process, selanjutnya adalah menemukan new value. Karena itu, kata Sunarso “kita harus mendesain new business model.”

Setelah mendesain new business model, hal yang tak kalah penting adalah medesain culture atau budaya perusahaan. “Itu yang kita sebut mendesain perilaku kolektif yang efektif untuk mencapai tujuan. Culture itu bukan produk individu, culture itu adalah produk kolektif,” ujarnya.

Langkah terakhir (4) dalam blueprint transformasi adalah eksekusi. Karena itu, menurut dia, syarat transformasi itu bisa sukses setelah mendesain adalah mendeliver yaitu implementasi dari strategi.

Sunarso mengatakan strategi dan eksekusi adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bila punya banyak strategi, tetapi tidak diekeskusi, artinya sama dengan tidak punya strategi. Demikian juga, bila punya banyak ekseksui tetapi tanpa ada strategi, “maka eksekusi kita bisa hambur-hambur resources dan ngawur tanpa tujuan.”

Bagaimana di BRI?

Baca Juga :   Pemerintah Resmi Alihkan Sebagian Sahamnya di Bank Mandiri dan BRI ke INA

Sunarso mengatakan langkah-langkah transformasi tersebut dilakukan di BRI. BRI memulainya dengan menentukan secara jelas objek yang ditransformasi yaitu digital dan culture.

“Enggak banyak-banyak yang kita transformasi, hanya dua digital. Digital kita bisa beli alatnya, kita bisa beli hardware dan software-nya. Tetapi yang kedua yang kita transformasi adalah culture. Culture ini tidak ada vendornya, enggak ada pabriknya, karena culture ini pabriknya ada di hati kita masing-masing. Di hati semua anggota, di hati semua insan BUMN itu ada culture di situ. Ada mindset. Itu adalah objek transformasi yang jelas,” ujarnya.

Selanjutanya, transformasi digital dan culture, dibimbing oleh seorang pemimpin yang memang transformatif. “Mudah-mudahan bukan saya,” ujar Sunarso.

Kemudian, transormasi ini di-by in oleh semua anggota/karyawan, dijadikan sistem dan dieksekusi.

Tranformasi digital di BRI, menurut Sunarso, sejalan dengan arahan Kementerian BUMN untuk membentuk holding ultra mikro.

“Holding ultra mikro mustahil kita bisa kerjakan tanpa digitalisasi. Karena kita ngurusin nasabah-nasabah yang kecil-kecil, sekarang kita mampu mengintegrasikan 37 juta nasabah ultra mikro. Mustahil kita lakukan secara manual dan itu harus kita digitalkan. Dan, culture dan mindset behind digital itu yang kita garap sekarang,” ujarnya.

Baca Juga :   Implementasi Prinsip GCG, BRI Raih Penghargaan Tertinggi pada Ajang ASRRAT

Sunarso, yang bergabung dengan BRI pada tahun 2015 mengatakan penyusunan peta jalan transformasi di BRI ini dikerjakan pada tahun 2016 dan kemudian mulai diujicoba pada tahun 2017.

Hasilnya laba bersih BRI terus tumbuh. Pada tahun 2017, ungkap Sunarso, laba bersih BRI masih sekitar Rp29 triliun. Kemudian tahun 2018, laba bersih BRI meningkat menjadi sekitar Rp32 triliun dan 2019 sebesar Rp34 triliun.

“Tahun 2020 alhamdulillah ada pandemi. Pandemi mempercepat transformasi baik di culture maupun digital,” ujarnya.

Di tengah pandemi, BRI tetap membukukan laba bersih sebesar sekitar Rp18 triliun pada tahun 2020. Proses pemulihan berjalan cepat, karena pada tahun 2021 laba BRI kembali meningkat menjadi sekitar Rp30 triliun.

Buah dari transformasi, menurut Sunarso mulai dipetik pada tahun 2022. Laba BRI naik signifikan menjadi Rp51,4 triliun pada tahun 2022. Kinerja yang moncer ini berlanjut ke tahun 2023 ini. Sepanjang Januari-September 2023, laba bersih BRI telah mencapai Rp44,21 triliun.

Leave a reply

Iconomics