Yenny Wahid Siap Jadi Cawapres di 2024 dan Akui Punya Kedekatan Khusus dengan Anies

0
323
Reporter: Rommy Yudhistira

Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid mengaku siap menjadi calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 bila diminta salah satu dari 3 kandidat yang kerap mendapatkan survei elektabilitas tertinggi. Putri kedua almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid itu mengaku telah lama berkecimpung dan berkarier di dunia politik sehingga harus siap menduduki jabatan publik yang strategis.

Tujuannya, kata Yenny, tentu saja untuk membuat berbagai kebijakan yang positif bagi masyarakat. “Karena itu memang salah satu tujuan kita untuk menduduki jabatan publik,” kata Yenny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/8).

Yenny menyinggung soal kedekatannya dengan Anies Baswedan, salah satu dari 3 kandidat dengan elektabilitas tertinggi yang merupakan bakal calon presiden (capres) dari Koalisi Perubahan untuk Perbaikan (KPP). Yenny bahkan bilang punya kedekatan khusus dengan Anies ketika menjabat rektor di Universitas Paramadina.

“Saya pulang mengambil master saya di Amerika (Serikat), Mas Anies menawarkan saya menjadi dosen di Paramadina. Beliau (Anies) waktu itu jadi rektor,” ujar Yenny.

Baca Juga :   Ganjar Ungkap Kriteria Cawapresnya Harus Anti-Korupsi dan Melayani

Soal namanya yang masuk radar hasil survei menjadi salah satu kandidat cawapres di Pilpres 2024, Yenny mengucapkan terima kasih. Nama Yenny dari berbagai survei disebut salah satu kandidat cawapres yang berpotensi maju pada 2024.

“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Bahwa saya dianggap punya kompetensi untuk bisa bersanding dengan para calon-calon presiden,” kata Yenny.

Meski demikian, kata Yenny, pihaknya tidak mau berspekulasi dan menjadikan hal itu sebagai bahan pertimbangan untuk melihat dinamika politik yang terjadi saat ini. Itu sebabnya, Yenny masih terus berkomunikasi dengan banyak pihak terkait Pilpres 2024.

“Itu bukan rahasia lagi kalau memang ada pendekatan-pendekatan. Ada komunikasi komunikasi. Politik di Indonesia itu tidak literal ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan,” ujar Yenny.

Masih kata Yenny, politik di Indonesia tidak bergerak secara statis, bahkan sampai di titik akhir penentuan segala sesuatu dan kemungkinan bisa saja terjadi. “Itu semua masih diramu semuanya, semua orang masih berkomunikasi, semua orang masih melakukan negosiasi, jadi kita lihat saja nanti,” katanya.

Leave a reply

Iconomics