Halal Tak Lagi Sekadar Isu Agama, Kini Jadi Gaya Hidup Konsumen Global

0
112

Konsep halal saat ini tidak lagi dipahami semata sebagai isu keagamaan, melainkan telah berkembang menjadi gaya hidup dan preferensi utama konsumen global seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap aspek keamanan, kualitas, dan keberlanjutan produk.

Presiden Direktur PT Makmur Berkah Amanda Tbk, Adi Saputra Tedja Surya, menyatakan agar suatu produk dinyatakan halal harus memenuhi dua unsur. Pertama, bahan baku dan produk yang digunakan tidak mengandung unsur yang dilarang dalam Al-Qur’an. Kedua, thayyib, yaitu produk tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan mulai dari sumber bahan baku, proses pengolahan, produksi, hingga dikonsumsi oleh masyarakat.

“Maka dengan itu, halal ini bukan lagi untuk agama (tertentu), melainkan sudah menjadi lifestyle dan pilihan utama bagi produk-produk yang dipilih oleh konsumen,” ujar Adi saat menjadi pembicara dalam The Iconomics Marketing & Halal Summit di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kamis (22/1).

Adi menyampaikan secara global, populasi Muslim dunia mencapai sekitar 2,06 miliar jiwa atau sekitar 25% populasi dunia. Indonesia sendiri memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 242,7 juta jiwa, disusul Pakistan, India, dan Malaysia. Posisi Indonesia sangat strategis karena berada di antara sumber bahan baku dan pasar utama halal global seperti Timur Tengah, Pakistan, India, dan Bangladesh.

Baca Juga :   Selain Jadi Perusahaan Logistik dan Distribusi, JNE Berperan Penting Dukung Ekosistem Halal Nasional

Nilai pasar halal dunia saat ini mencapai sekitar US$2,43 triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi US$3,36 triliun pada 2028. Indonesia menempati peringkat kedua dalam State of the Global Islamic Economy Indicator, yaitu indikator kesiapan suatu negara dalam membangun ekosistem ekonomi syariah. Kontributor terbesar berasal dari sektor makanan dan minuman, yang nilainya mencapai lebih dari US$1,4 triliun dan terus bertumbuh.

Indonesia menguasai lebih dari 10% pasar halal dunia, namun ironisnya juga termasuk salah satu importir produk halal terbesar, berada di peringkat keempat negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

“Sementara kalau kita lihat banyak negara-negara yang dibilang non muslim lebih konsen terhadap produk halal. Jadi, kalau kita lihat top 5 dari eksportir produk halal itu hanya India saja yang memiliki populasi Muslim yang cukup signifikan. Sementara China, Brasil, Rusia dan USA, ini yang kita bisa lihat bahwa negara non muslim tapi mereka sangat konsen dan mereka memproduksi produk-produk halal jauh lebih besar daripada negara-negara Muslim,” ujarnya.

Baca Juga :   Aice Sabet Penghargaan Halal, Label Halal Berikan Nilai Tambah

Indonesia juga masih tertinggal dibanding Malaysia dalam pengembangan industri halal. Malaysia telah mengembangkan 14 kawasan industri halal sejak 2011 dan kini mengarah pada kawasan industri halal yang lebih spesifik, seperti farmasi, makanan-minuman, dan lainnya.

Namun, Adi mengatakan dengan dukungan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang semakin agresif mensertifikasi sekitar 11 juta produk halal pada tahun lalu, Adi optimistis Indonesia dapat mengejar ketertinggalan tersebut.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Makmur Berkah Amanda Tbk mengembangkan kawasan industri halal di Sidoarjo yang sejak 2020 telah ditetapkan sebagai kawasan industri halal dan kini tengah diproses menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industri Halal.

Adi menjelaskan, konsep yang dikembangkan adalah ekosistem halal berkelanjutan, di mana produk yang dihasilkan di dalam kawasan industri dapat langsung memperoleh sertifikasi halal. Kawasan ini juga didukung fasilitas logistik halal, UMKM, serta rencana pembangunan pusat riset halal.

Leave a reply

Iconomics