Larangan Ekspor Konsentrat Gerus Kinerja Keuangan Amman Mineral

0
98

Kebijakan pemerintah Indonesia melarang ekspor konsentrat tembaga mulai 1 Januari 2025 menggerus kinerja keuangan PT Amman Mineral Internasional Tbk sepanjang tahun lalu.

Perseroan mencatat penurunan signifikan pada pendapatan yang diikuti merosotnya laba tahun berjalan, termasuk laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan Amman Mineral turun menjadi sekitar US$1,85 miliar pada 2025, dari US$2,66 miliar pada 2024. Penurunan sekitar 30% secara tahunan ini menjadi faktor utama yang menekan profitabilitas perusahaan.

Laba tahun berjalan tercatat merosot menjadi sekitar US$258 juta dari sebelumnya US$641,7 juta. Sementara laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun drastis menjadi sekitar US$248,9 juta dari US$636,9 juta pada tahun sebelumnya.

Penurunan pendapatan terutama dipicu oleh perubahan signifikan dalam struktur penjualan. Pada 2024, pendapatan perseroan masih didominasi oleh penjualan konsentrat tembaga dan emas.

Namun pada 2025, penjualan konsentrat turun tajam, sejalan dengan berlakunya larangan ekspor konsentrat tembaga oleh pemerintah Indonesia mulai 1 Januari 2025. Dengan kebijakan tersebut, pemerintah mendorong hilirisasi di dalam negeri.

Baca Juga :   BNI Sekuritas Bantu Amman Mineral IPO dan Hasilkan Rp 10,73 T

Karena itu, pada 2025 Amman Mineral mulai mencatat penjualan produk hilir seperti katoda tembaga dan emas murni. Meski menunjukkan pergeseran ke arah hilirisasi, kontribusi dari produk baru tersebut belum mampu sepenuhnya mengompensasi penurunan pendapatan dari konsentrat.

Penjualan Amman Mineral

(dalam juta US$)

Kategori Penjualan 2025 2024 Keterangan
Ekspor – Konsentrat 587,2 2.660,0 turun 77,9%
Ekspor – Katoda tembaga 731,0 produk hilir
Ekspor – Emas murni 343,9 produk hilir
Total Ekspor 1.662,1 2.660,0  turun 37,5%
Penjualan domestik 190,6
Total Penjualan 1.852,7 2.660,0  turun 30,7%

Sumber: Laporan Keuangan

Perubahan kebijakan pemerintah ini juga tercermin pada kinerja penjualan ekspor Amman Mineral. Sepanjang 2025, total penjualan ekspor tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan terhadap laba juga datang dari meningkatnya beban keuangan. Sepanjang 2025, beban keuangan perusahaan tercatat naik menjadi sekitar US$386 juta, dibandingkan US$283,7 juta pada 2024.

Kondisi ini mencerminkan bahwa perusahaan tengah berada dalam fase transisi bisnis, termasuk pengembangan fasilitas pengolahan (smelter) dan pergeseran dari penjualan konsentrat ke produk hilir bernilai tambah.

Baca Juga :   Izin Ekspor Tembaga Freeport Indoenesia Diperpanjang, Asosiasi Nilai Berdampak Buruk Bagi Iklim Investasi

Dalam jangka pendek, proses transisi tersebut masih memberikan tekanan terhadap kinerja keuangan, terutama karena kontribusi produk hilir belum sepenuhnya stabil dan optimal.

Dapatkan berita dan analisis seputar ekonomi, bisnis dan lainnya hanya di theiconomics.com.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan terbaru, berita, dan event The Iconomics di akun sosial media kami:
Instagram: the.iconomics
TikTok: @theiconomics
YouTube: @theiconomics
X: theiconomic
LinkedIn: The Iconomics

Leave a reply

Iconomics